SAMUDERA NEWS – Kaya akan legenda dan keindahan alam, Gunung Arjuno bukan hanya sekadar titik geografis, melainkan juga kisah epik tentang Arjuna yang menjalani pertapaan di puncaknya. Cerita tersebut telah meresapi sejarah gunung ini, menjadikannya sebuah tempat suci yang memikat para petualang dan pencinta alam.
Menurut legenda, Arjuna, dengan kesempurnaannya, menyebabkan tubuhnya memancarkan sinar luar biasa, mengangkat gunung itu sendiri dan memberi dampak yang luas pada bumi. Batara Guru, melihat hal ini, mengutus Batara Narada untuk membangunkannya. Namun, saat upaya itu gagal, Batara Guru mengirim Batara Ismaya dan Togog untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Mereka mengubah diri menjadi raksasa, memotong gunung tempat Arjuna bertapa, dan melemparkannya hingga Arjuna terbangun. Nasihat dari Batara Ismaya menandai awal dari nama Gunung Arjuna.
Terletak di perbatasan Kota Batu dan Kabupaten Pasuruan, Gunung Arjuno menara hingga 3.339 mdpl dan ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Keberadaannya juga dipenuhi dengan berbagai situs sejarah dan candi yang masih digunakan untuk pemujaan.
Menantangnya Jalur Tretes
Jalur Tretes, meski kaya akan sumber air, merupakan jalur terberat dan terpanjang, dibandingkan dengan jalur lainnya seperti Lawang atau Purwoasri. Jalur ini memulai tantangannya sejak awal, dengan tanjakan dan kontur berbatu yang menantang.
Pendaki biasanya memulai perjalanan dari Hotel Tanjung di Desa Tretes, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, yang menjadi basecamp utama. Setelah berkumpul, mereka melanjutkan menuju Pet Bocor atau pos 1.
Perjalanan menuju pos 1 memakan waktu sekitar 30 menit melalui jalur bebatuan yang menanjak di sepanjang perkebunan penduduk. Di pos 1, pendaki melakukan pendataan dan menyiapkan perlengkapan untuk perjalanan mendaki, karena tidak ada warung di pos selanjutnya.
Setelah melewati pos 1, pendaki dihadapkan pada tanjakan yang semakin terjal. Jalur yang masih berbatu ini membutuhkan kehati-hatian ekstra.
Perjalanan menuju pos 2 menawarkan tantangan baru dengan tanjakan yang lebih sulit, sesuai dengan bentuk kerucut Gunung Arjuno. Tanjakan-tanjakan seperti Tanjakan Aras-Arasan dan Tanjakan Asu menguji keberanian pendaki.
Pos 3 menjadi persimpangan yang menghubungkan jalur ke Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Total waktu perjalanan menuju pos ini sekitar 4-5 jam.
Setelah melewati pos 3, jalur pendakian terlihat lebih mudah dengan kontur yang landai, mengarah ke Lembah Kidang. Di sini, pendaki bisa mendirikan tenda dan menikmati air bersih dari mata air setempat.
Perjalanan menuju puncak semakin menantang, dengan tingkat kemiringan yang lebih dari 30 derajat dan jalur berbatu yang melewati puncak-puncak gunung.
Antara Lembah Kidang dan Puncak Ogal-Agil, Hutan Lali Jiwo menyuguhkan keindahan alam yang menakjubkan. Pendaki disarankan untuk menjaga keselamatan dan kebersamaan saat melintas di sini.
Tidak jauh dari Hutan Lali Jiwo, kawasan bebatuan yang luas dikenal sebagai Pasar Setan, karena sering dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh jahat. Pemandangan puncak Ogal-Agil yang memukau membalas perjuangan para pendaki dengan panorama awan putih yang mempesona.***











