SAMUDERA NEWS- Setiap pemilihan rektor (Pilrek) bukan hanya proses administratif—ia adalah pertarungan senyap antara membangun opini dan menghancurkan karakter. Seolah menjadi panggung yang penuh janji visi-misi, Pilrek seringkali justru dipenuhi suara-suara sumbang yang lebih sibuk menjatuhkan daripada membangun.
Bayangkan seorang pemuda datang ke sebuah desa dengan semangat besar untuk membangun. Ia menjanjikan perubahan: menjadikan tanah tandus subur, membangun jembatan baru. Tapi tak lama, ia jadi sasaran cerita negatif: arogansi, masa lalu yang dikorek habis-habisan. Publik tak lagi menilai programnya, tapi terseret dalam pusaran isu personal. Inilah analogi nyata dari Pilrek kita hari ini.
Opini dibentuk, tapi tak selalu sehat.
Narasi yang berkembang bukan selalu soal kapabilitas, tapi soal siapa yang paling lihai memainkan citra. Sayangnya, bukan hanya calon yang tercoreng—tapi juga sistem dan nilai akademik yang ikut ternoda.
Padahal, Pilrek semestinya menjadi forum intelektual. Sebuah arena gagasan, bukan lapangan adu serangan personal. Sebuah demokrasi kampus yang beradab, bukan pesta manipulasi dan gosip yang keji.
Ketika karakter seseorang dihancurkan, bukan hanya ia yang kalah. Kita semua—yang diam, ikut menyebar rumor, atau bahkan menikmati kegaduhan itu—ikut bertanggung jawab dalam merusak wajah pendidikan kita sendiri.
Penulis mengajak kita berkaca lewat analogi seorang tukang kebun. Ia tak merawat tanamannya sendiri, tapi justru sibuk meracuni tanaman tetangganya. Harapannya, tanaman itu mati, sehingga tanamannya tampak unggul. Tapi ketika semua orang melakukan hal serupa, maka seluruh kebun hancur. Tak ada lagi ruang tumbuh. Tak ada lagi keadilan.
Sebagai penutup, mari renungkan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:
“Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing sebagian yang lain. Apakah kamu suka memakan daging saudaramu yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik…”
Pilrek bukan panggung untuk saling membusukkan. Ia adalah jalan menentukan masa depan lembaga. Jika karakter jadi korban dan integritas tak lagi penting, maka bukan hanya calon yang kalah—tapi seluruh institusi yang runtuh pelan-pelan.***












