• Redaksi
  • Tentang Kami
Wednesday, October 28, 2026
Samudera News
  • Login
  • Register
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
No Result
View All Result
  • ANIME
  • EKBIS
  • ENTERTAINTMENT
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
Home Berita

Kaleng Bir Bekas Orang Pinggir Jalan: Puisi yang Menggugat Kota Bandar Lampung

MeldabyMelda
19/01/2026
in Berita
Kaleng Bir Bekas Orang Pinggir Jalan: Puisi yang Menggugat Kota Bandar Lampung
ADVERTISEMENT

SAMUDERA NEWS- Sebuah puisi menyebut Bandar Lampung bukan sebagai kota, melainkan kaleng bir bekas orang tidur di pinggir jalan. Metafora itu terdengar kasar, bahkan tak sopan. Namun bagi Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, ungkapan tersebut bukan sekadar provokasi—melainkan potret jujur tentang kota yang keras, berkarat, dan berpotensi melukai warganya sendiri.

Puisi berjudul “Kaleng Bir” itu kini menarik perhatian pembaca sastra dan pegiat isu sosial. Dengan bahasa sederhana namun tajam, Alfariezie menghadirkan kritik kota yang jarang muncul dalam narasi pembangunan dan pencitraan daerah.

Kaleng Bir

Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir
jalan. Ibu marah ketika saya
bilang begitu. Walau tempat
minum bekas hidup orang
pinggir jalan, Bandar Lampung
ialah yang halal– menurutnya

BeritaLainnya

Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter

59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif

Tapi saya heran, dan mungkin
ibu kurang paham. Bandar
Lampung kaleng bir bekas orang
tidur pinggir jalan, bukan botol
bekas Aqua maupun Aquiviva

Seperti yang haram, Bandar
Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera

ADVERTISEMENT

Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa

2026

 Kota yang Direduksi Menjadi Benda Buangan

Sejak baris pembuka, puisi ini langsung menyerang kesadaran pembaca:

“Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir jalan”

Bandar Lampung tidak digambarkan sebagai kota modern, ibu kota provinsi, atau pusat ekonomi. Kota itu justru direduksi menjadi benda sisa, barang sekali pakai yang tergeletak di pinggir jalan—tempat orang-orang bertahan hidup dalam kondisi paling minimal.

Kaleng bir di sini bukan sekadar objek, melainkan simbol. Ia mewakili sisa konsumsi kota, limbah urban yang ditinggalkan sistem, sekaligus menyimpan bahaya: tajam, berkarat, dan bisa melukai siapa saja yang menyentuhnya.

 Bukan Aqua, Bukan Kehidupan Layak

Dalam puisinya, Alfariezie dengan tegas membandingkan kaleng bir dengan botol air mineral:

“bukan botol bekas Aqua maupun Aquiviva”

Perbandingan ini mengandung kritik kelas yang kuat. Air mineral identik dengan kebersihan, kesehatan, dan standar hidup layak. Sementara kaleng bir bekas adalah simbol hidup darurat—apa yang tersisa bagi mereka yang tidak pernah benar-benar diperhitungkan dalam perencanaan kota.

Kota, dalam pandangan penyair, menyediakan fasilitas berbeda untuk warganya. Ada yang minum air bersih, ada yang hanya mendapat sisa.

“Halal”, Tapi Tidak Manusiawi?

Konflik paling menarik dalam puisi ini muncul lewat figur ibu. Sang ibu marah ketika sang penyair menyamakan Bandar Lampung dengan kaleng bir bekas orang pinggir jalan. Menurutnya, meski tempat minum itu bekas kaum marginal, Bandar Lampung tetap “halal”.

Di sinilah ironi tajam muncul. Alfariezie mempertanyakan makna halal jika kota yang sah secara moral dan administratif justru gagal menjamin kehidupan warganya.

“Seperti yang haram,
Bandar Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera”

Larik ini tidak menyerang agama, tetapi cara berpikir yang terlalu sibuk dengan simbol moral, sementara realitas sosial dibiarkan luka.

 Kota yang Melukai Perlahan

Bagian penutup puisi menjadi klimaks kritik:

“Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa”

Bandar Lampung digambarkan sebagai benda berkarat—tidak langsung membunuh, tetapi melukai secara perlahan. Tetanus menjadi metafora kuat tentang luka kecil yang diabaikan, namun berujung penderitaan serius.

Ini adalah kritik tentang kelalaian struktural: kota yang tampak berjalan normal, tetapi diam-diam menyimpan bahaya bagi mereka yang paling rentan.

 Suara Penyair Muda dan Kritik Kota

Dalam peta sastra Indonesia kontemporer, “Kaleng Bir”menempatkan Muhammad Alfariezie sebagai bagian dari generasi penyair muda yang berani membaca kota dari sisi paling gelap. Ia tidak menawarkan solusi, tidak berkhotbah, tetapi menyodorkan cermin.

Bandar Lampung, dalam puisi ini, bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah simbol kota mana pun yang mengaku layak, namun menutup mata pada warganya yang hidup di pinggir jalan.

Ketika Puisi Menjadi Gugatan

Puisi “Kaleng Bir” menunjukkan bahwa sastra masih memiliki fungsi penting: menggugat. Bukan dengan teriakan, tetapi dengan metafora sederhana yang sulit dilupakan.

Kaleng bir itu mungkin kecil dan dianggap remeh. Namun seperti karat dan tetanus, ia menyimpan luka—dan puisi ini memaksa kita untuk melihatnya.

Catatan Redaksi

Puisi “Kaleng Bir” ditulis oleh Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Kota Bandar Lampung, pada tahun 2026.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Bandar lampungisu perkotaankritik kotaMuhammad Alfarieziepenyair mudapuisi Kaleng BirPuisi SosialSastra Lampung
ShareSendShareTweetShare
Previous Post

Lelang Vespa Kaka dan Bass Ivanka Warnai Donasi Rp500 Juta untuk Korban Bencana

Next Post

PTSL 2026 di Pringsewu Dimulai, Kantor Pertanahan Gelar Bimtek Teknis

Related Posts

Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter
Berita

Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter

27/10/2026
59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif
Berita

59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif

27/10/2026
Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi
Berita

Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi

27/10/2026
Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Raih Medali Emas
Berita

Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Raih Medali Emas

27/10/2026
Kapal KMP Portlink III Mulai Berlayar, ASDP Jaga Kelancaran Penyeberangan Jawa–Sumatera
Berita

Kapal KMP Portlink III Mulai Berlayar, ASDP Jaga Kelancaran Penyeberangan Jawa–Sumatera

27/10/2026
Panji Padang Ratu Dukung Saburai Budaya Nusantara, Riset dan Pelestarian Sejarah Jadi Sorotan
Berita

Panji Padang Ratu Dukung Saburai Budaya Nusantara, Riset dan Pelestarian Sejarah Jadi Sorotan

27/10/2026
Next Post
PTSL 2026 di Pringsewu Dimulai, Kantor Pertanahan Gelar Bimtek Teknis

PTSL 2026 di Pringsewu Dimulai, Kantor Pertanahan Gelar Bimtek Teknis

Penyalahgunaan Wewenang Administrasi dan Dampaknya

Penyalahgunaan Wewenang Administrasi dan Dampaknya

Rekaman CCTV Bongkar Aksi Komplotan Pencuri Sapi di Pringsewu

Rekaman CCTV Bongkar Aksi Komplotan Pencuri Sapi di Pringsewu

Kericuhan di Pasar Sarinongko Pringsewu, Pedagang Alami Luka Tusuk di Leher

Kericuhan di Pasar Sarinongko Pringsewu, Pedagang Alami Luka Tusuk di Leher

Narkoba Lintas Provinsi Digagalkan, 10,6 Kg Sabu Diamankan di Tol Mesuji

Narkoba Lintas Provinsi Digagalkan, 10,6 Kg Sabu Diamankan di Tol Mesuji

Berita Terkini

  • Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter
  • 59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif
  • Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi
  • Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Raih Medali Emas
  • Kapal KMP Portlink III Mulai Berlayar, ASDP Jaga Kelancaran Penyeberangan Jawa–Sumatera

Berita Populer

  • TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mindful Consumption: Bagaimana Kebiasaan Membeli yang Sadar Membentuk Gaya Hidup Anda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi antara dua raksasa industri hiburan, HYBE dan ADOR, terus mengemuka dengan adanya rilis mengejutkan dari Dispatch yang mengguncang opini publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Daftar Sekolah Kedinasan Terbaru 2024

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infrastruktur Jalan Lampung Memerlukan Pemimpin yang Tindak Tegas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Samudera News

Sebagai portal berita yang berfokus pada keberagaman dan kualitas, kami berkomitmen untuk menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan berimbang kepada pembaca kami.

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In