• Redaksi
  • Tentang Kami
Wednesday, October 28, 2026
Samudera News
  • Login
  • Register
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
No Result
View All Result
  • ANIME
  • EKBIS
  • ENTERTAINTMENT
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
Home Berita

Tukang, Hujan, dan SMA Siger: Kritik Sunyi atas Pendidikan yang Tergesa

MeldabyMelda
07/02/2026
in Berita
Tukang, Hujan, dan SMA Siger: Kritik Sunyi atas Pendidikan yang Tergesa
ADVERTISEMENT

SAMUDERA NEWS- Puisi “Tukang Bunuh Orang” Karya Muhammad Alfariezie menghadirkan kisah sederhana tentang rumah tua yang direnovasi, hujan yang datang tiba-tiba, dan kelalaian teknis yang nyaris berujung maut.

Namun kesederhanaan ini justru membuka ruang tafsir politis yang relevan dengan dinamika kebijakan publik, khususnya dalam konteks pendidikan.

Ketika dibaca berdampingan dengan kebijakan SMA Swasta Siger di Bandar Lampung, puisi ini bekerja sebagai alegori tentang kekuasaan, kepercayaan, dan risiko yang dipindahkan kepada warga.

BeritaLainnya

Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi

Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan

Tukang Bunuh Orang

Itu bocor, rumah tua yang baru
pemiliknya renovasi. Tukangnya
kerja cepat, meski tak selincah
kilat. Mungkin karena selesainya
siang awan mantab terpandang,
jadi ia sama sekali tidak curiga

Tapi kemarau masih jauh. Hanya
satu hari, hujan kemudian datang
sejak siang. Karena sibuk untuk
senang sampai bintang, hanya ia
tampung tetes hujan yang melubangi
plafon dengan baskom cuci tangan

ADVERTISEMENT

Ketika pulang, dia kaget air keluar
pintu. Karena lepas sepatu,
akhirnya tersetrum sampai hampir
mutung

Untung saya tetangga yang tanggap.
Mendengar bantingan pintu, sekedip
pandang– listrik saya minta padam

2026

Rumah Tua dan Janji Renovasi

Rumah tua dalam puisi dapat dibaca sebagai sistem pendidikan yang telah lama berdiri dengan segala keterbatasannya. Renovasi menandai niat baik: pembaruan, inovasi, dan upaya menjawab kebutuhan zaman. Dalam konteks ini, kebijakan SMA Swasta Siger dapat dipahami sebagai proyek “perbaikan” yang diklaim sebagai solusi—sebuah upaya cepat untuk menambal kekurangan daya tampung atau ketimpangan akses.

Namun puisi ini sejak awal memberi peringatan: renovasi yang dikerjakan terburu-buru, tanpa pengawasan memadai, justru menyisakan kebocoran struktural.

Tukang sebagai Orang Kepercayaan Kebijakan

Figur tukang dalam puisi bukan sekadar pekerja fisik, melainkan simbol pelaksana kebijakan—entah itu tim teknis, konsultan, atau mekanisme administratif yang dipercaya penuh oleh pengambil keputusan. Ia “kerja cepat”, sebuah frasa yang dalam bahasa politik sering dipuji sebagai efisiensi, tetapi dalam puisi ini mengandung ironi: cepat tidak selalu berarti tepat.

Kebijakan pendidikan yang diluncurkan tanpa kesiapan infrastruktur, kejelasan regulasi, atau perlindungan bagi peserta didik dan sekolah swasta, berpotensi menciptakan “plafon bocor”—masalah laten yang baru terasa ketika tekanan datang.

Hujan sebagai Realitas Sosial

Hujan dalam puisi bukan anomali. Ia pasti datang. Dalam kebijakan pendidikan, hujan adalah realitas sosial: keterbatasan ekonomi orang tua, ketimpangan mutu sekolah, kecemasan siswa, dan ketidakpastian masa depan. Puisi ini menegaskan bahwa masalah bukan pada hujannya, melainkan pada sistem yang tidak siap menampungnya.

Ketika kebijakan seperti SMA Swasta Siger diperkenalkan tanpa skema mitigasi yang jelas, risiko tidak hilang—ia hanya dipindahkan. Seperti air yang ditadah baskom, masalah ditahan sementara, bukan diselesaikan.

Sengatan Listrik: Dampak yang Nyaris Mematikan

Pertemuan air dan listrik adalah momen paling politis dalam puisi. Ia melambangkan pertemuan antara kebijakan yang rapuh dan realitas yang keras. Dampaknya tidak abstrak: ia menyengat tubuh, mengejutkan, dan nyaris membunuh.

Dalam konteks pendidikan, “sengatan” ini bisa dibaca sebagai dampak kebijakan terhadap siswa, guru, dan sekolah: kebingungan administratif, beban biaya, hilangnya rasa aman, atau terpinggirkannya sekolah swasta yang tidak siap dijadikan instrumen kebijakan publik tanpa dukungan memadai.
Puisi ini penting karena tidak menggambarkan kematian, melainkan nyaris mati. Sebuah peringatan bahwa bahaya sudah sangat dekat.

Tetangga dan Peran Warga

Bagian akhir puisi menghadirkan “saya tetangga yang tanggap”. Dalam pembacaan politis, tetangga adalah masyarakat: orang tua, guru, pengelola sekolah, dan warga kota yang bersuara. Keselamatan datang bukan dari sistem yang dirancang, melainkan dari intervensi warga yang menyadari bahaya dan bertindak.

Namun kata “untung” mengandung kritik tajam. Keselamatan bergantung pada keberuntungan, bukan jaminan kebijakan. Dalam negara yang sehat, pendidikan tidak boleh bergantung pada “untung-untungan”.

Agitasi Politik yang Sunyi

Puisi “Tukang Bunuh Orang” tidak menyerukan penolakan eksplisit, tetapi mengagitasi kesadaran pembaca: bahwa kebijakan yang tampak baik bisa menjadi berbahaya jika dibangun di atas kepercayaan buta dan kecepatan semu. Dalam kaitannya dengan SMA Swasta Siger, puisi ini mengajak kita bertanya: apakah kebijakan ini benar-benar memperbaiki struktur, atau hanya menambal kebocoran sambil berharap hujan tidak deras?

Sebagai kritik sastra, puisi ini berfungsi sebagai cermin etis bagi kekuasaan lokal. Ia mengingatkan bahwa dalam urusan pendidikan, kelalaian bukan sekadar kesalahan teknis—ia adalah bentuk kekerasan yang paling sunyi.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Kebijakan Publikkritik kebijakan pendidikanPendidikan LampungPuisi PolitikSastra dan KekuasaanSMA SIGER
ShareSendShareTweetShare
Previous Post

Wanprestasi Kontraktor

Next Post

Pasca Korban Jiwa, Program Wisata Rohani Pemkot Bandar Lampung Diduga Tetap Bergulir

Related Posts

Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi
Berita

Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi

28/10/2026
Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan
Berita

Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan

28/10/2026
Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter
Berita

Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter

27/10/2026
59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif
Berita

59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif

27/10/2026
Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi
Berita

Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi

27/10/2026
Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Raih Medali Emas
Berita

Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Raih Medali Emas

27/10/2026
Next Post
Pasca Korban Jiwa, Program Wisata Rohani Pemkot Bandar Lampung Diduga Tetap Bergulir

Pasca Korban Jiwa, Program Wisata Rohani Pemkot Bandar Lampung Diduga Tetap Bergulir

Transaksi Tukin ASN Terancam, DAU Bandar Lampung Disebut Tertahan Akibat Masalah Administratif

Transaksi Tukin ASN Terancam, DAU Bandar Lampung Disebut Tertahan Akibat Masalah Administratif

Musim Hujan Mengancam, DAU Darurat Bandar Lampung Diduga Kosong

Musim Hujan Mengancam, DAU Darurat Bandar Lampung Diduga Kosong

Aliran Dana Rp5,9 Miliar ke Kejati Lampung Dipersoalkan, Mekanisme Belum Sesuai Aturan

Aliran Dana Rp5,9 Miliar ke Kejati Lampung Dipersoalkan, Mekanisme Belum Sesuai Aturan

Perkara Hak Cipta Menguji Perlindungan Kreator Digital

Perkara Hak Cipta Menguji Perlindungan Kreator Digital

Berita Terkini

  • Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi
  • Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan
  • Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter
  • 59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif
  • Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi

Berita Populer

  • TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mindful Consumption: Bagaimana Kebiasaan Membeli yang Sadar Membentuk Gaya Hidup Anda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi antara dua raksasa industri hiburan, HYBE dan ADOR, terus mengemuka dengan adanya rilis mengejutkan dari Dispatch yang mengguncang opini publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Daftar Sekolah Kedinasan Terbaru 2024

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infrastruktur Jalan Lampung Memerlukan Pemimpin yang Tindak Tegas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Samudera News

Sebagai portal berita yang berfokus pada keberagaman dan kualitas, kami berkomitmen untuk menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan berimbang kepada pembaca kami.

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In