• Redaksi
  • Tentang Kami
Monday, August 24, 2026
Samudera News
  • Login
  • Register
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
No Result
View All Result
  • ANIME
  • EKBIS
  • ENTERTAINTMENT
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
Home Berita

Dari Hegemoni hingga Kemarahan Rakyat, Ini Makna Puisi Hakim Pembegalan Buat Wali Kota

MeldabyMelda
11/05/2026
in Berita
Dari Hegemoni hingga Kemarahan Rakyat, Ini Makna Puisi Hakim Pembegalan Buat Wali Kota
ADVERTISEMENT

SAMUDERA NEWS- Karya puisi Hakim Pembegalan Buat Wali Kota karya Muhammad Alfariezie merupakan representasi sastra kritik sosial yang memperlihatkan kemarahan publik terhadap kekuasaan politik lokal.

Hakim Pembegalan Buat Wali Kota

Sudah tidak ada yang bagus
dari kebijakannya

Tumbalnya ratusan anak
yang pagi-malam mengharap
MBG

BeritaLainnya

Pengawasan Anggaran Negara

Dari Lampung untuk Indonesia, Rakernas I APTISI Jadi Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Swasta

Belum lagi di jalan-jalan, ribuan
warga menggerutu bagai kepala
terserang ratusan kutu

Saat penghujan, mari kita lihat
berita tentang berapa banyak
orang tua hilang bahagia

ADVERTISEMENT

Mari kita lihat juga berita
tentangnya tertawa dengan
jaksa di mapolda setelah
memberi semua yang rakyat
punya

Bahaya! Dia bukan hanya
perusak atau maling kota

Dengan udara yang dibiarkannya
tanpa ruang ideal, dengan jalan
dan pemukiman yang
dibiarkannya menerjang dan
dengan anak-anak yang d
dibiarkannya tanpa ijazah formal

Wali kota ini layak sekeratul
maut karena hakim pembegalan

2025

Puisi ini tidak sekadar menghadirkan ekspresi emosional, melainkan membentuk narasi perlawanan terhadap struktur dominasi yang dianggap menindas masyarakat.

Dalam konteks teori hegemoni Antonio Gramsci, puisi tersebut dapat dibaca sebagai bentuk resistensi budaya terhadap kekuasaan yang kehilangan legitimasi moralnya.

Gramsci memandang bahwa kekuasaan tidak hanya dijalankan melalui hukum dan aparat negara, tetapi juga melalui hegemoni—yakni kemampuan penguasa menciptakan persetujuan sosial sehingga rakyat menerima dominasi sebagai sesuatu yang wajar. Namun ketika hegemoni retak, lahirlah suara-suara tandingan dari masyarakat, termasuk melalui sastra.

Dalam puisi ini, Muhammad Alfariezie tampil sebagai intelektual organik yang menyuarakan keresahan kelas sosial yang merasa ditinggalkan oleh kebijakan pemerintah.
Baris pembuka:

“Sudah tidak ada yang bagus dari kebijakannya.”
menjadi penanda awal runtuhnya legitimasi kekuasaan.

Penyair menggambarkan pemerintah bukan lagi sebagai pelindung masyarakat, melainkan sebagai sumber penderitaan kolektif.

Kalimat tersebut bukan sekadar kritik administratif, tetapi gugatan terhadap kegagalan moral kekuasaan dalam memenuhi kebutuhan rakyat.

Puisi ini kemudian bergerak ke wilayah sosial yang lebih konkret melalui penggambaran penderitaan masyarakat kecil:

“Tumbalnya ratusan anak yang pagi-malam mengharap MBG”

Anak-anak dijadikan simbol kelompok rentan yang menjadi korban kebijakan negara.

Dalam perspektif Gramsci, negara seharusnya membangun konsensus sosial melalui kesejahteraan dan perlindungan publik.

Akan tetapi, dalam puisi ini negara justru hadir sebagai kekuatan yang gagal memenuhi harapan dasar rakyatnya. Kata “tumbal” memperlihatkan bahwa masyarakat diposisikan hanya sebagai objek politik.

Kritik semakin tajam ketika penyair menampilkan ruang kota yang rusak:

“Dengan udara yang dibiarkannya tanpa ruang ideal, dengan jalan dan pemukiman yang dibiarkannya menerjang…”

Kota digambarkan sebagai ruang distopia sosial. Kerusakan lingkungan, jalan, dan pemukiman menunjukkan kegagalan negara mengelola ruang hidup masyarakat.

Dalam teori hegemoni Gramsci, ruang publik yang rusak menandakan lemahnya kepemimpinan moral penguasa.

Pemerintah kehilangan kemampuan membangun kepercayaan sosial karena realitas sehari-hari rakyat dipenuhi penderitaan.

Bagian paling keras muncul dalam larik:
“Wali kota ini layak sekeratul maut karena hakim pembegalan”

Kalimat ini menghadirkan bentuk satire Juvenalian yang sangat tajam.

Penyair tidak lagi menggunakan sindiran halus, melainkan penghukuman moral secara langsung. Istilah “hakim pembegalan” dapat dimaknai sebagai simbol kekuasaan yang tidak lagi menegakkan keadilan, melainkan ikut merampas hak rakyat.

Dalam kerangka Gramsci, kondisi ini mencerminkan krisis hegemoni: ketika rakyat tidak lagi percaya kepada institusi hukum maupun elite politik.

Secara estetik, puisi ini menggunakan bahasa yang kasar, emosional, dan konfrontatif. Namun justru di situlah kekuatannya. Muhammad Alfariezie membangun puisi sebagai alat perlawanan budaya.

Ia tidak berusaha menciptakan keindahan romantik, melainkan mengguncang kesadaran sosial pembacanya. Bahasa puitik dipakai sebagai senjata ideologis untuk membongkar citra kekuasaan yang dianggap menipu publik.

Sebagai karya sastra modern, puisi ini memperlihatkan bahwa sastra masih memiliki fungsi politik yang kuat.

Penyair hadir bukan hanya sebagai pencipta kata-kata, tetapi sebagai penggerak kesadaran sosial. Dalam perspektif Gramsci, Muhammad Alfariezie dapat dibaca sebagai intelektual organik yang lahir dari keresahan masyarakat dan menggunakan sastra untuk melawan dominasi kekuasaan.

Dengan demikian, Hakim Pembegalan Buat Wali Kota bukan sekadar puisi kemarahan, melainkan dokumen kritik sosial terhadap krisis hegemoni pemerintahan lokal.

Puisi ini menunjukkan bagaimana sastra mampu menjadi medium perlawanan rakyat terhadap kekuasaan yang dianggap gagal menjaga keadilan, kesejahteraan, dan martabat publik.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Antonio GramsciHegemoni KekuasaanKritik Sosial LampungKritik Wali KotaMuhammad Alfarieziepuisi kritik sosialPuisi PolitikSastra Kontemporer IndonesiaSatire Juvenaliansatire politik
ShareSendShareTweetShare
Previous Post

Sambut HUT ke-53, ASDP Bakauheni Perkuat Kebersamaan Lewat Olympic Days

Next Post

BOSDA Bandar Lampung Mandek, Sekolah Mengaku Terpaksa Andalkan Sumbangan Wali Murid

Related Posts

Pengawasan Anggaran Negara
Berita

Pengawasan Anggaran Negara

24/08/2026
Dari Lampung untuk Indonesia, Rakernas I APTISI Jadi Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Swasta
Berita

Dari Lampung untuk Indonesia, Rakernas I APTISI Jadi Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Swasta

23/08/2026
Razia Tengah Malam di Pringsewu, Polisi Temukan Pelajar 16 Tahun Bersama Pria Dewasa
Berita

Razia Tengah Malam di Pringsewu, Polisi Temukan Pelajar 16 Tahun Bersama Pria Dewasa

23/08/2026
Ribuan Peserta Padati Jalan Sehat KBSB Kalianda, Bazar Bundo Kandung Ikut Meriah
Berita

Ribuan Peserta Padati Jalan Sehat KBSB Kalianda, Bazar Bundo Kandung Ikut Meriah

23/08/2026
Dari “Aku dan Kekasih” ke “Orang dan Binatang”, Evolusi Kepenyairan Muhammad Alfariezie
Berita

Dari “Aku dan Kekasih” ke “Orang dan Binatang”, Evolusi Kepenyairan Muhammad Alfariezie

23/08/2026
Hak Tersangka dan Korban dalam Perkara Pidana yang Wajib Diketahui
Berita

Hak Tersangka dan Korban dalam Perkara Pidana yang Wajib Diketahui

23/08/2026
Next Post
BOSDA Bandar Lampung Mandek, Sekolah Mengaku Terpaksa Andalkan Sumbangan Wali Murid

BOSDA Bandar Lampung Mandek, Sekolah Mengaku Terpaksa Andalkan Sumbangan Wali Murid

Webinar Kearsipan ATR/BPN 2026 Soroti Pentingnya Arsip Digital yang Sah Secara Hukum

Webinar Kearsipan ATR/BPN 2026 Soroti Pentingnya Arsip Digital yang Sah Secara Hukum

Reforma Agraria Tak Sekadar Sertipikat, Kantor Pertanahan Pringsewu Fokus Penguatan Ekonomi

Reforma Agraria Tak Sekadar Sertipikat, Kantor Pertanahan Pringsewu Fokus Penguatan Ekonomi

AKBP Toni Kasmiri Sebut Piala Kapolres Jadi Ajang Silaturahmi Kicau Mania

AKBP Toni Kasmiri Sebut Piala Kapolres Jadi Ajang Silaturahmi Kicau Mania

Thomas Amirico Tegaskan Sekolah Harus Steril dari Paham Intoleransi dan Radikalisme

Thomas Amirico Tegaskan Sekolah Harus Steril dari Paham Intoleransi dan Radikalisme

Berita Terkini

  • Pengawasan Anggaran Negara
  • Dari Lampung untuk Indonesia, Rakernas I APTISI Jadi Tonggak Baru Pendidikan Tinggi Swasta
  • Razia Tengah Malam di Pringsewu, Polisi Temukan Pelajar 16 Tahun Bersama Pria Dewasa
  • Ribuan Peserta Padati Jalan Sehat KBSB Kalianda, Bazar Bundo Kandung Ikut Meriah
  • Dari “Aku dan Kekasih” ke “Orang dan Binatang”, Evolusi Kepenyairan Muhammad Alfariezie

Berita Populer

  • TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi antara dua raksasa industri hiburan, HYBE dan ADOR, terus mengemuka dengan adanya rilis mengejutkan dari Dispatch yang mengguncang opini publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mindful Consumption: Bagaimana Kebiasaan Membeli yang Sadar Membentuk Gaya Hidup Anda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Daftar Sekolah Kedinasan Terbaru 2024

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infrastruktur Jalan Lampung Memerlukan Pemimpin yang Tindak Tegas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Samudera News

Sebagai portal berita yang berfokus pada keberagaman dan kualitas, kami berkomitmen untuk menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan berimbang kepada pembaca kami.

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In