SAMUDERA NEWS– Penyair muda Muhammad Alfariezie kembali mencuri perhatian dengan karya puisi terbarunya berjudul “Tuntunan Keinginan”. Karya ini seakan menanggapi secara reflektif teori atau asumsi yang diangkat oleh Iwan Fals dalam lagu legendarisnya *Seperti Matahari*, di mana keinginan dipandang sebagai sumber penderitaan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk menafsir ulang konsep keinginan. Alfariezie menekankan bahwa keinginan bukan musuh spiritual atau penyebab penderitaan semata, melainkan energi eksistensial yang jika dipahami secara rasional dapat menjadi panduan untuk bertindak, mengambil peluang, dan mencapai pencapaian batin maupun sosial.
Puisi “Tuntunan Keinginan” mengalir melalui empat bagian yang saling terhubung, membangun logika batin yang utuh. Bagian pertama membuka dengan pengakuan jujur tentang kebingungan manusia terhadap “ingin” yang tidak selalu dimengerti. Bagian kedua menawarkan solusi praktis: memahami kehendak dengan pertimbangan rasional, simbolik diwakili oleh “secangkir kopi pagi” yang menenangkan pikiran.
Bagian ketiga membawa pembaca pada suasana malam yang hangat, dengan “bulan melingkar sempurna” dan “wedang di meja”, menandai keseimbangan antara pencapaian batin dan kenyamanan sehari-hari. Sementara bagian keempat menutup dengan refleksi filosofis bahwa keinginan adalah jendela dan pintu, simbol keterbukaan, kebebasan bergerak, dan kesadaran diri.
Bahasa yang digunakan lugas namun kaya makna, khas gaya kontemporer yang menolak simbolisme berlebihan namun tetap memikat. Kata-kata seperti “nurani”, “kehendak”, dan ungkapan keseharian seperti “secangkir kopi” atau “bulan melingkar sempurna” membangun metafora eksistensial, menjembatani realitas sehari-hari dengan refleksi batin. Pilihan kata “ndak” memberi sentuhan personal dan akrab, menghadirkan kejujuran penyair di tengah renungan filosofis yang mendalam.
Puisi ini juga menekankan aspek psikologis: keinginan dipandang sebagai landasan untuk belajar hidup seimbang. Baris “Keinginan adalah landasan untuk kita terbang dan selamat ketika mendarat” mengingatkan pembaca bahwa memahami keinginan berarti mengelola ambisi dengan kendali diri, mengubah hasrat menjadi arah hidup yang konstruktif.
Dari perspektif sastra modern Indonesia, karya ini dapat disejajarkan dengan kecenderungan puisi reflektif-filosofis, menekankan kesadaran dan pencerahan batin daripada simbolisme romantik yang berlebihan. Tuntunan Keinginan mengingatkan pada karya-karya Sapardi Djoko Damono di masa akhir dan renungan eksistensial Afrizal Malna yang lembut namun mendalam.
Puisi ini menegaskan bahwa memahami keinginan sama dengan memahami diri sendiri—sebuah proses pembelajaran batin yang menjadi inti kedewasaan jiwa. Melalui penggunaan bahasa sederhana, simbol keseharian, dan irama enjambemen yang tenang, Alfariezie menghadirkan pengalaman membaca yang meditatif, memungkinkan pembaca merenungkan hubungan antara hasrat, pilihan, dan kehidupan modern.
“Tuntunan Keinginan” adalah contoh nyata bagaimana sastra kontemporer Indonesia mampu menghadirkan dialog antara pengalaman batin individu dan nilai-nilai universal, membimbing pembaca untuk menavigasi kehidupan dengan rasionalitas, empati, dan kesadaran diri.***












