SAMUDERA NEWS – Setelah lebih dari dua bulan sejak kematian Brigadir Satu (Briptu) EA, keluarga korban masih meragukan kesimpulan bahwa anggota Polres Way Kanan tersebut tewas akibat bunuh diri. Mereka meminta kepolisian melakukan penyidikan ulang untuk mengungkap kebenaran di balik kasus ini.
Kapolres Way Kanan, AKBP Adanan Mangopang, menegaskan bahwa hasil penyelidikan telah disampaikan kepada keluarga korban. “Motif, modus, barang bukti, dan alat bukti telah dijelaskan sesuai dengan pasal 184 KUHAP. Senin (17/03/2025) mendatang, atas permintaan keluarga, akan dilakukan ekshumasi,” ungkapnya dalam pesan tertulis, Kamis (13/03/2025).
Adanan juga menyebut bahwa sejak awal keluarga diberi kesempatan untuk melakukan otopsi, namun mereka menolak. “Saat itu pihak keluarga sudah menerima dan menolak otopsi, bahkan ada bukti video serta surat pernyataannya,” tambahnya.
Briptu EA, anggota Banit Reskrim Polsek Pakuan Ratu, ditemukan tewas di rumahnya, Kampung Negara, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, pada 7 Januari 2025. Luka parah di bagian leher dan lebam di tubuh korban menimbulkan kecurigaan pihak keluarga.
Ayah korban, Alipir (62), menuturkan bahwa selain luka besar di leher, anaknya juga memiliki lebam di lengan dan punggung. “Setelah enam hari dari kematian EA, saya melihat foto luka sebelum dijahit. Sejak itu, saya merasa anak saya bukan bunuh diri, melainkan dibunuh,” ujarnya.
Saat memandikan jenazah, keluarga juga menemukan bekas cengkeraman di lengan, tangan yang kaku dalam posisi mencengkeram, serta lebam hitam di punggung. “Saya meminta keadilan. Jika anak saya dibunuh, saya ingin tahu siapa pelakunya. Saya hanya rakyat kecil, tapi saya ingin keadilan,” tambahnya dengan suara bergetar.
Saksi lain yang identitasnya dirahasiakan menyebut bahwa korban ditemukan dalam posisi telungkup di kamar mandi dengan ceceran darah dari teras hingga kamar tidur. “Saya datang setelah mendengar teriakan istrinya, dan saat itu hanya ada istri serta anaknya yang digendong,” ungkapnya.
Kasus ini telah ditangani oleh Polda Lampung, namun hingga kini keluarga masih menunggu perkembangan terbaru.***












