NGAKAK POLITIK
SAMUDERA NEWS- Main ke Teluk Kiluan, makan nasi rendang.
Eh tahu-tahu dewan kita plesiran ke Jogja. Katanya sih, demi pariwisata Lampung yang berkelanjutan.
Wah, keren dong… secara Jogja kan gudangnya wisata. Tapi, tunggu sebentar… emangnya Lampung itu Jogja KW?
Jogja punya candi megah, Malioboro yang ramah.
Lampung punya banjir, jalan bolong, preman palak, dan Pemilu yang belum juga move on.
Jadi, apa korelasi antara Prambanan dan Jalan Lintas Timur yang berubah jadi sungai dadakan?
Wahai Bapak-Ibu Dewan yang terhormat… dan ter-ongkosi rakyat.
Pariwisata kita itu bukan butuh teori dari luar pulau, tapi praktik nyata dari lubang ke lubang!
Kenapa harus jauh-jauh ke Jogja buat belajar? Apa Gunung Anak Krakatau perlu seminar? Atau Way Kambas butuh workshop TikTok biar viral?
Netizen sudah kasih tahu berkali-kali:
Lampung itu bukan kekurangan destinasi, tapi kekurangan akses.
Bukan destinasi yang mandek, tapi anggaran yang melenceng.
Kalau sudah tahu, kenapa masih cari jawaban ke luar pulau? Jangan-jangan… habis Jogja langsung lanjut Bali?
Minum es kelapa, ngobrol sama bule, demi cari insight pariwisata sambil rebahan. Ya kali, Pak!
Maaf, ini bukan asumsi ngawur.
Ini hasil olah rasa warga yang selalu diajak pilih pemimpin, tapi ditinggal pas mikul beban pembangunan.
Negara ini bukan milik lembaga, apalagi grup WA keluarga elite.
Jadi kalau rakyat nyinyir, itu bukan nyinyir biasa—itu cara kami menjaga demokrasi biar enggak makin absurd.
Ayo, kita mawas diri.
Lihat ke sekitar. Coba buka mata dari jendela mobil dinas yang kaca film-nya gelap banget itu.
Biar tahu jalan ke pantai rusak, sinyal di kampung mati, dan anak-anak sekolah naik rakit.
Tapi jangan sedih.
Bangsa ini memang gemar memaafkan—meski anggaran kunker tak kunjung dilaporkan rinci.
Yuk, saling maaf-memaafkan… sebelum rakyat benar-benar move on dan pilih wakil yang enggak doyan ngelencer.***












