SAMUDERA NEWS – Pengadilan Distrik Seoul Barat tengah berjibaku dalam pertimbangan atas permohonan izin HYBE untuk mengadakan rapat umum pemegang saham luar biasa. Permohonan tersebut, yang telah menyita perhatian publik sejak tanggal 25 April, mengundang sorotan intens dari berbagai pihak terkait. HYBE, pemegang mayoritas saham ADOR, berupaya menggelar rapat guna memberhentikan CEO Min Hee-jin.
Interogasi tertutup berlangsung pada Selasa (30/04) pukul 4:35 KST, sesuai dengan Undang-Undang Prosedur Kasus yang Tidak Disengketakan. Dilaporkan bahwa interogasi berlangsung selama sekitar 30 menit hingga berakhir pada pukul 17:13 Waktu Standar Korea. Sementara perhatian publik kini terfokus pada putusan yang akan diambil pengadilan.
Menurut sumber terpercaya, biasanya diperlukan waktu tiga minggu bagi pengadilan untuk memutuskan apakah akan mengizinkan diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Apabila diizinkan, rapat tersebut akan dijadwalkan 15 hari setelah pengambilan keputusan.
Sebelumnya, CEO Min Hee-jin menanggapi permintaan HYBE dengan menegaskan bahwa ia tidak akan menghadiri rapat dewan pada tanggal 30. Hal ini terjadi setelah HYBE mengajukan petisi kepada pengadilan pada tanggal 25 April untuk mengadakan rapat pemegang saham luar biasa dengan niatan memberhentikan CEO Min Hee-jin.
Perseteruan antara HYBE dan CEO Min Hee-jin dipicu oleh serangkaian konflik internal yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir, termasuk kontroversi terkait masa depan grup New Jeans. Meskipun demikian, komunitas hukum cenderung yakin bahwa pengadilan tidak akan menolak permohonan izin HYBE.
Sumber hukum menyatakan bahwa HYBE telah mengajukan bukti yang mempertanyakan status CEO Min Hee-jin, terutama terkait hak manajemen dan kualifikasi manajemennya yang dipertanyakan. Dalam sebuah konferensi pers darurat pada tanggal 25 April, perwakilan Min Hee-jin mengungkapkan kritik tajam terhadap HYBE, sambil menegaskan bahwa Min Hee-jin tidak pernah berupaya untuk mengambil alih kendali perusahaan.
Meskipun demikian, suasana tegang antara HYBE dan ADOR terus berlanjut, dengan HYBE memperkirakan bahwa ADOR berusaha untuk menjadi independen dari kantor pusatnya dan memulai proses audit. Seiring berjalannya waktu, masyarakat menantikan keputusan akhir dari pengadilan yang akan menentukan arah dari konflik yang tengah berkecamuk ini.***












