SAMUDERA NEWS- Harga kakao, komoditas unggulan Lampung Timur, telah menyusut secara dramatis sejak awal Mei 2024. Setelah mencapai puncaknya pada Maret lalu dengan mencapai Rp150.000 per kilogram, harga kini merosot tajam menjadi Rp100.000 per kilogram.
Penurunan signifikan ini, menurut para petani setempat, dipicu oleh masuknya musim panen raya. Salah satu petani terkemuka, Ngatimen (53), mengungkapkan bahwa harga yang jatuh memaksa mereka untuk menyesuaikan strategi perdagangan mereka.
“Dengan mulainya panen raya, kami melihat penurunan harga yang cukup besar. Ini berdampak pada strategi kami dalam menetapkan harga bagi para petani,” ujar Ngatimen, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, dalam wawancara pada hari Minggu (5/4/2024).
Selain sebagai petani, Ngatimen juga berperan sebagai tengkulak kakao di wilayahnya. Dengan lahan seluas 3 hektar yang ditanami kakao, ia mampu membeli hasil panen para petani sekitar, terutama saat musim panen raya.
“Saat ini, saya mampu membeli hingga 1,5 ton kakao setiap hari, terutama saat musim panen raya. Kami berusaha memberikan dukungan maksimal kepada petani di sekitar kami,” tambahnya.
Ngatimen juga menjelaskan bahwa kakao yang dibelinya masih dalam kondisi basah, sehingga memerlukan proses pemanasan sebelum dikirim ke Jakarta. Untuk itu, ia menggunakan alat pemanas yang menggunakan bahan bakar kayu.
“Proses pemanasan ini memakan waktu hingga 24 jam, dan setelah itu, kakao harus disaring menggunakan mesin khusus agar kualitasnya optimal saat sampai di pabrik,” jelas Ngatimen.
Meskipun harga turun, Ngatimen tetap optimis bahwa industri kakao di Lampung Timur akan tetap berkembang. Dengan strategi yang tepat, ia yakin dapat menjaga kesejahteraan para petani lokal sambil tetap memenuhi permintaan pasar yang terus berubah.***












