ANALISIS
SAMUDERA NEWS — Konstelasi Pilkada DKI makin dinamis pasca PKS tunjuk Sohibul Imam, lalu bagaimana dengan Anies.
Pasca keputusan PKS itu, banyak parpol yang kemudian ‘menata ulang’ langkah kualifikasi maupun kandidat yang bakal diusung.
Munculnya nama Sohibul Imam ini juga secara otomatis menutup upaya Gerindra yang mengajak PKS berkoalisi dengan tawaran posisi cawagub.
Demikian pula peluang Kaesang yang juga berharap bisa menggandeng PKS untuk memuluskan rencana maju di DKI.
Banyak kalangan yang menilai, langkah PKS dinilai sudah tepat dengan tegas statusnya sebagai partai pemenang pemilu di DKI sehingga sangat pantas jika PKS hanya mendapat ‘jatah’ cawagub.
PKS juga dinilai konsisten dengan sikap politiknya yang selama ini memilih sebagai oposisi dalam pemerintahan termasuk dengan Jokowi.
Ini juga menjadi isyarat jika sebenarnya PKS tak pernah terbersit sekalipun untuk menggandeng Kaesang.
Lalu bagaimana peluang Anies, pasca putusan PKS menunjuk Sohibul Imam.
Bisa jadi, Anies dan PKS akan berpisah di Pilgub DKI. Anies akan mengandalkan rekomendasi PDIP dan PKB saja.
Karena tak mungkin pula, Anies berpasangan dengan Sohibul Imam, apalagi sebagai cawagub, kecuali Sohibul Imam mengalah dan memilih sebagai cawagub agar bisa berpasangan dengan Anies.
Meski punya popularitas dan elektabilitas yang tinggi di DKI, Anies justru amat berharap dengan PKS.
Selain memiliki jaringan yang militan, PKS mengakui memiliki basis pemilih yang solid di DKI.
Oleh karena itu kombinasi Anies dan PKS sebenarnya bisa jadi kekuatan yang tak terbendung.
Solusi lainnya, untuk memecah suara PKS di Pilgub Jakarta, Anies bisa saja menggandeng Mardani Ali Sera sebagai wakilnya.
Tapi, konstelasi Pilkada DKI memang masih dinamis, apa saja bisa terjadi agar pelayaran bisa lancar.***












