SAMUDERA NEWS — Masjid Syaikhona Kholil Bangkalan telah menjadi landasan rohani bagi masyarakat Pulau Madura, memancarkan keelokan yang memukau bukan hanya sebagai masjid, tapi juga sebagai warisan budaya dan spiritual yang tak ternilai. Didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada Syaikhona Kholil, seorang ulama ternama asal Bangkalan, masjid ini merayakan keindahan dan kebesaran arsitektur Islam.
Awalnya, Masjid Syaikhona Kholil berdiri sebagai mushala kecil di Pesantren Kademangan pada tahun 1861. Namun, pesatnya pertumbuhan pesantren ini membawa perubahan besar, memperluas dimensi fisik dan spiritual mushala menjadi bangunan megah yang kini mengagumkan.
Setelah wafatnya Syaikhona Kholil, intensitas ziarah ke pesantrennya tidak pernah surut. Hal ini mendorong transformasi mushala menjadi masjid pada tahun 1920-an, dengan dana berasal dari kotak amal masjid dan derma jemaah setia.
Proses rehabilitasi yang dimulai pada tahun 2003 di bawah kepemimpinan Bupati Bangkalan, Fuad Amin, menandai babak baru bagi Masjid Syaikhona Kholil. Desain modern menghiasi struktur bangunan utama, menambah pesona dan fungsi keagamaan.
Eksterior masjid memukau dengan dominasi warna coklat, putih, dan hijau, serta menara yang menjulang gagah di kedua sisinya. Ornamen kaligrafi mempercantik setiap ruang, memberikan sentuhan spiritual yang mendalam.
Taman indah dan area parkir yang luas menawarkan kenyamanan bagi para pengunjung, sementara pasar tradisional di dalam kompleks masjid menjadi tempat mencari oleh-oleh khas Pulau Madura.
Kubah utama yang megah, dengan lampu kristal yang bersinar di tengahnya, memancarkan kemegahan dan ketenangan bagi setiap jiwa yang berada di dalamnya. Cahaya kuning keemasan yang memantul di malam hari menciptakan suasana magis, menambah keagungan masjid yang dirancang dengan tekun dan penuh kasih.
Dengan fasilitas modern dan warisan spiritual yang kaya, Masjid Syaikhona Kholil terus menjadi magnet bagi para ziarah dan pencari kedamaian dari seluruh penjuru negeri.***












