SAMUDERA NEWS – Keberadaan Candi Merak, sebuah situs purbakala yang hampir terlupakan, kini menjadi fokus perhatian di Kabupaten Klaten. Terletak di tengah gempuran popularitas candi-candi megah lainnya, Candi Merak mempertahankan keberadaannya dengan megah.
Konon, situs ini masih menyimpan jejak kisah legendaris Roro Jonggrang, putri Prabu Boko yang terlibat dalam cinta tragis dengan Pangeran Pengging, Bandung Bondowoso.
Diceritakan bahwa Bandung Bondowoso, dengan pasukan jinnya, diperintahkan untuk membangun seribu candi sebagai mahar untuk memperistri Roro Jonggrang. Namun, upaya ini terus digagalkan oleh para pembantu Roro Jonggrang, sehingga memaksa pasukan jin untuk pindah tempat hingga akhirnya membangun Candi Prambanan.
Di sekitar Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, legenda ini memunculkan jejak batuan andesit yang sempurna, awalnya digunakan sebagai bahan pembangunan candi.
Candi Karangnongko, yang ditemukan tidak jauh dari Candi Merak, menambah misteri. Mereka memiliki struktur yang serupa, menguatkan asumsi bahwa keduanya dibangun pada era yang sama, saat Wangsa Sanjaya berkuasa.
Setelah peralihan pusat pemerintahan oleh Sri Raja Mpu Sindok, banyak candi Hindu dan Buddha yang dibiarkan terbengkalai, terutama saat Konflik Perang Jawa mengamuk.
Namun, meskipun memiliki jejak sejarah yang kuat, tidak ada bukti yang mengungkap asal-usul nama Candi Merak. Beberapa spekulasi muncul, salah satunya berhubungan dengan keberadaan burung merak di sekitar tempat tersebut.
Pada masa pra pemugaran, sebuah pohon joho besar yang menjadi tempat berkumpul burung merak memberikan inspirasi untuk memberi nama pada situs tersebut.
Namun, ada pula yang berpendapat bahwa nama “Merak” mungkin berasal dari bahasa Jawa, merujuk pada daya tarik atau keindahan situs tersebut yang cukup menawan.
Sejarah Candi Merak semakin jelas dengan temuan artefak di dalamnya. Dari pahatan dan relief yang menghiasi dinding, dapat disimpulkan bahwa candi ini didirikan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, pada abad ke-8 Masehi.
Strukturnya memperlihatkan kecenderungan Hindu, dengan lingga yoni dan arca-arca dewa yang menjadi bagian dari tempat persembahan.
Dengan ukuran 8 x 8 meter dan tinggi sekitar 12 meter, Candi Merak menunjukkan keindahan arsitektur kuno. Selain itu, arca Dewa Nandi dan sejumlah dewa lainnya tersebar di sekitar situs ini.
Proses pemugaran Candi Merak menjadi proyek monumental. Dimulai pada tahun 2007 dan berakhir pada 2011, pemugaran ini melibatkan upaya besar untuk memastikan keaslian dan keindahan struktur aslinya.
Meskipun memakan waktu lama, pemugaran tersebut berhasil mengembalikan keagungan Candi Merak, menjadi bukti nyata dari warisan budaya yang tak ternilai harganya.***











