SAMUDERA NEWS – Pemerhati hak anak dan perempuan, Rumiatun, memperdebatkan masalah kekerasan domestik di Lampung Timur, di mana kasus KDRT dan kekerasan seksual sering terjadi, menyisakan korban anak-anak dan perempuan.
Baru-baru ini, di Desa Bandaragung, Kecamatan Bandar Sribhawono, seorang suami bernama Sugito nekat membacok istrinya, berujung pada kematian tragis suami itu setelah meminum racun. Meskipun motif di balik tindakan nekat pria 60 tahun itu masih belum terkuak.
Menurut data yang kami dapatkan, selama tahun 2023 terdapat 74 kasus kekerasan, di antaranya 20 kasus KDRT, 36 kasus kekerasan seksual, dan kasus lainnya. Kasus kekerasan Sugito adalah kasus KDRT pertama yang tercatat di tahun 2024 ini.
KDRT seringkali dipicu oleh masalah ekonomi keluarga. Ketika keluarga menghadapi kesulitan ekonomi, terjadi ketegangan yang bisa berujung pada kekerasan, yang korban utamanya adalah istri atau anak, kata Rumiatun, seorang Pemerhati Anak dan Perempuan di Lampung Timur.
Rumiatun menekankan bahwa pemerintah harus serius dalam menangani masalah KDRT dengan melakukan langkah-langkah mitigasi yang tepat untuk mengurangi kejadian KDRT.
Jika masalahnya berakar pada ekonomi keluarga, pemerintah dapat membantu dengan memberdayakan perempuan melalui pelatihan ketrampilan UMKM. Ini dapat meringankan beban suami yang memiliki pendapatan rendah.
Sosialisasi tentang bahaya KDRT dan hukumannya penting, tetapi tidak cukup sebagai solusi. Pemerintah perlu memberdayakan keluarga dengan memberikan bantuan langsung kepada mereka yang berisiko menjadi korban KDRT, jelas Rumiatun.
Ketua UPTD PPA Lampung Timur, Rusdi, menyatakan bahwa pada tahun 2023 terdapat 74 kasus kekerasan, dengan KDRT dan kekerasan seksual sebagai kasus dominan. Mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan.
Di tahun 2024, diharapkan jumlah kasus kekerasan akan berkurang. PPA akan terus memberikan sosialisasi tentang KDRT dan kekerasan seksual, terutama di lingkungan sekolah.
Kami terus memberikan pemahaman tentang bahaya dan dampak buruk kekerasan dalam rumah tangga. Kami juga mengedukasi remaja untuk menjauhi faktor-faktor yang memicu kekerasan seksual, kata Rusdi.***











