Oleh: Kiagus Bambang Utoyo
SAMUDERA NEWS – Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi dan derasnya arus informasi, satu pertanyaan mendasar menggema di ruang batin kita: Apa sebenarnya makna literasi bagi manusia?
Pertanyaan ini bukan sekadar akademik, tetapi menyentuh dimensi ruhani yang lebih dalam. Kita kerap membicarakan literasi sebagai keterampilan dasar membaca dan menulis. Namun, dalam pandangan spiritual dan historis, literasi adalah jalan pulang menuju kesadaran, cahaya, dan ketundukan kepada Sang Pencipta.
Iqra’: Titik Tolak Literasi Transenden
Literasi dalam Islam dimulai bukan dari pena, melainkan dari wahyu. Seruan “Iqra’”—bacalah—yang ditujukan kepada Rasulullah SAW, seorang yang tidak pandai membaca-tulis, menjadi bukti bahwa literasi bukan semata kemampuan teknis, melainkan perintah ilahiah untuk menyadari, merenungi, dan memahami semesta.
Sejak Nabi Adam hingga Rasulullah, para nabi adalah pelaku literasi sejati: membaca ayat-ayat Allah, mengajarkan ilmu, menulis sejarah, dan menafsirkan kehidupan. Literasi adalah zikir yang menyatu dengan fikir, menautkan ilmu dengan hikmah, dan akal dengan hati.
Literasi yang Kehilangan Jiwa
Ironisnya, ketika fasilitas baca-tulis digital begitu mudah diakses hari ini, makna literasi justru mengalami degradasi. Banyak yang membaca tanpa memahami, menulis tanpa merenung. Literasi dirayakan secara formal, tetapi miskin ruh.
“Banyak yang mampu menyusun kata indah, tapi gagal menyusun hidup yang bijak,” tulis Kiagus Bambang Utoyo dalam refleksi ini.
Dalam ruang kosong makna, kita melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara batin. Literasi yang mestinya mencerdaskan dan memanusiakan, justru terjebak dalam formalitas data dan konten.
Membangun Literasi dengan Kesadaran
Dalam tradisi para ulama terdahulu, literasi adalah ibadah. Membaca adalah tafakur. Menulis adalah pengabdian. Mereka tidak hanya menyusun huruf, tapi juga mewariskan nilai dan kejujuran intelektual. Kita perlu kembali pada semangat itu—membaca dengan hati, menulis dengan kesadaran, dan mengajar dengan keteladanan.
Literasi bukan hanya tugas lembaga pendidikan, tapi tanggung jawab seluruh elemen bangsa: keluarga, masyarakat, pemerintah, dan pemuka agama.
Menuju Literasi yang Menghidupkan Peradaban
Negeri ini akan besar bukan karena sumber daya alamnya, tapi karena kekuatan akal sehat dan kejernihan nurani rakyatnya. Jika kita ingin menciptakan peradaban yang beradab, maka literasi harus menjadi jalan menuju pembentukan insan kamil—manusia paripurna.
“Setiap detik adalah huruf, setiap keputusan adalah paragraf, dan hidup ini adalah kitab yang akan dibacakan di hadapan Sang Pengarang.”
Maka mari hidupkan kembali literasi bukan sekadar sebagai sarana informasi, tetapi sebagai cahaya transendental untuk membentuk jiwa yang berpikir, berzikir, dan bertindak dengan akhlak mulia.***












