SAMUDER NEWS— Pemerintah pusat kembali menunjukkan komitmennya terhadap penguatan desa dan ketahanan pangan. Dipimpin oleh Deputi Kemenko PM, Prof. Dr. Rernard Abdul Haris, M.Sc, rombongan Kemenko Pemberdayaan Masyarakat melakukan kunjungan kerja ke Desa Bumi Daya, Kecamatan Palas, dan Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji.
Rombongan disambut hangat oleh Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar, jajaran Forkopimda, dan unsur pemerintah daerah lainnya.
Bahas Ketahanan Pangan dan Solusi Nyata untuk Petani
Dalam pertemuan tersebut, Deputi Haris menegaskan bahwa arah pembangunan kini harus bergeser dari sekadar memberi bantuan ke arah pemberdayaan yang berkelanjutan. Ia juga menyinggung pentingnya implementasi Inpres No. 8 Tahun 2025 tentang Pengentasan Kemiskinan Ekstrem sebagai prioritas nasional.
“Paradigma pembangunan harus berubah. Yang utama bukan sekadar bantuan, tapi pemberdayaan. Kemandirian dimulai dari desa,” tegas Haris.
Pemerintah pusat turut menyerahkan bantuan alat mesin pertanian combine harvester dan melakukan uji coba alsintan di lahan petani sebagai bagian dari program strategis untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi panen.
Potensi Pertanian Besar, Tapi Infrastruktur Masih Tertinggal
Wabup Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, memaparkan kondisi riil sektor pertanian Lampung Selatan. Dengan 38.000 hektare sawah dan 128.000 hektare lahan kering, daerah ini menjadi lumbung pangan Lampung, mencatatkan hasil besar seperti:
- Jagung: 824.197 ton (peringkat 2 Provinsi)
- Padi: 335.112 ton (peringkat 4)
- Pisang: 5,7 juta kuintal (peringkat 1 nasional)
Namun, ia juga mengungkap tantangan serius: 70% jalan di Kecamatan Palas rusak berat, keterbatasan tenaga kerja pertanian, dan kurangnya alat modern.
“Terima kasih atas dukungan combine harvester. Tapi kami juga butuh sentuhan infrastruktur agar distribusi hasil tani lebih lancar,” ujar Syaiful.
🌾 Program Desaku Maju dan Sekolah Rakyat: Investasi untuk Masa Depan Desa
Wakil Gubernur Jihan Nurlela mengungkapkan, Program Desaku Maju hadir untuk mengatasi kesenjangan desa sebagai kantong produksi namun tetap menjadi kantong kemiskinan. Program ini menghadirkan alsintan, pelatihan teknisi, digitalisasi UMKM, dan penguatan BUMDes.
“Kalau 3 juta ton gabah hanya dijual mentah, nilainya Rp20 triliun. Tapi kalau diolah jadi beras premium, nilainya bisa Rp50 triliun. Nilai tambah itu penting,” tegasnya.
Prof. Haris juga memperkenalkan gagasan baru: Sekolah Rakyat berbasis asrama untuk anak-anak dari keluarga miskin sebagai solusi akses pendidikan yang merata.
Kolaborasi Adalah Kunci
Kunjungan ditutup dengan penyerahan simbolis alsintan dan penekanan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Dari desa, pemerintah membangun harapan. Dari petani, negara menguatkan fondasi kedaulatan pangan.
“Sinergi pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat adalah pondasi menuju desa mandiri dan petani sejahtera,” tutup Deputi Haris.
Dari Lampung Selatan, semangat kemandirian desa dan pertanian masa depan kembali ditanam hari ini. ***












