SAMUDERA NEWS– Bencana banjir dan longsor yang melanda Bali meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Tidak hanya kehilangan harta benda, sebagian warga juga mengalami trauma berat akibat peristiwa yang datang secara tiba-tiba. Untuk itu, Kepolisian Daerah (Polda) Bali memastikan penanganan pascabencana berjalan menyeluruh, mulai dari evakuasi korban, pemberian bantuan logistik, hingga program trauma healing bagi pengungsi.
Kapolda Bali menegaskan bahwa Polri hadir bukan hanya sebagai garda terdepan dalam penyelamatan fisik, tetapi juga menjadi pendamping masyarakat dalam proses pemulihan mental. “Kami tidak hanya mengevakuasi dan memberikan logistik. Trauma healing juga penting, karena masyarakat yang terdampak membutuhkan ketenangan batin agar bisa bangkit kembali,” ujarnya, Kamis (11/9/2025).
Polri bersama instansi terkait telah mendirikan posko-posko darurat di berbagai titik pengungsian. Posko tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat distribusi makanan, pakaian, dan kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai ruang konseling. Melalui tim psikolog kepolisian, program trauma healing difokuskan pada anak-anak, perempuan, dan keluarga korban yang rentan mengalami gangguan psikologis pascabencana.
Program trauma healing mencakup berbagai kegiatan, mulai dari sesi konseling individu, permainan edukatif, hingga aktivitas kelompok yang dirancang untuk mengurangi rasa takut dan cemas. Para psikolog juga memberikan pendampingan intensif bagi anak-anak yang mengalami kesulitan tidur, kecemasan berlebihan, atau ketakutan ketika hujan turun. “Kondisi psikologis masyarakat sama pentingnya dengan pemulihan infrastruktur. Jika mental mereka pulih, mereka bisa lebih cepat beradaptasi dengan situasi pascabencana,” ungkap salah satu psikolog Polda Bali.
Tak hanya itu, Polri juga menyalurkan bantuan berupa beras, obat-obatan, selimut, hingga kebutuhan bayi. Bantuan logistik tersebut dikirim secara berkala agar kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi selama mereka berada di posko. Sinergi lintas instansi – termasuk BPBD, TNI, relawan, dan pemerintah daerah – menjadi kunci dalam memastikan bantuan tepat sasaran.
Polda Bali menegaskan akan terus mendampingi masyarakat hingga kondisi benar-benar pulih. Dengan dukungan masyarakat, diharapkan pemulihan pascabencana ini berjalan cepat, menyeluruh, dan berkelanjutan. Kehadiran aparat kepolisian di tengah masyarakat juga diharapkan memberikan rasa aman, sekaligus mengurangi beban psikologis yang dirasakan warga terdampak.
Masyarakat Bali yang menjadi korban bencana kini menggantungkan harapan besar pada program ini. Mereka berharap perhatian pemerintah dan Polri tidak hanya berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga seluruh aspek kehidupan kembali normal. Dengan demikian, bencana ini tidak hanya menjadi luka, tetapi juga momentum untuk memperkuat solidaritas dan ketangguhan masyarakat Bali menghadapi bencana di masa depan.***












