SAMUDERA NEWS— Ketegangan internasional meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Sabtu malam WIB, 3 Januari 2026. Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai negara, termasuk Rusia dan China, yang mengecam tindakan AS sebagai pelanggaran berat hukum internasional dan kedaulatan Venezuela.
Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, sebelumnya menyatakan bahwa pemerintahnya mengecam agresi militer terbuka AS. Presiden Maduro juga disebut telah mengaktifkan sistem pertahanan menyeluruh untuk menghadapi ancaman tersebut.
Kecaman dari Negara Adidaya
Rusia menilai operasi penangkapan ini sebagai pelanggaran serius yang dapat menciptakan preseden buruk bagi stabilitas politik global. Sementara itu, China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa tindakan AS melanggar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“China sangat terkejut dan dengan tegas mengutuk penggunaan kekuatan terang-terangan oleh AS terhadap negara berdaulat serta tindakan terhadap presidennya,” ujar juru bicara tersebut, dikutip dari Anadolu Agency. “Tindakan hegemonik AS semacam ini mengancam perdamaian dan keamanan di kawasan Amerika Latin dan Karibia.”
Kecaman juga datang dari Korea Utara, yang meluncurkan dua rudal balistik ke Laut Korea-Jepang pada Minggu, 1 Januari 2025. Meski belum jelas apakah peluncuran ini terkait langsung dengan penangkapan Maduro atau respons terhadap kunjungan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke Beijing, aksi tersebut memperlihatkan meningkatnya ketegangan regional bersamaan dengan operasi militer AS.
Isu Minyak Jadi Sorotan
Di tengah krisis ini, isu minyak muncul sebagai motif utama operasi AS. Anggota Kongres Partai Demokrat, Jase Auchincloss, menegaskan bahwa penangkapan Maduro berkaitan dengan cadangan minyak Venezuela, bukan perdagangan narkoba.
“Ini pertumpahan darah demi minyak, tidak berhubungan perdagangan narkoba. Fentanyl yang berasal dari China, bukan kokain, yang membunuh orang Amerika,” kata Auchincloss, dikutip CNN. Ia menambahkan, janji kampanye Trump terkait perusahaan minyak AS yang beroperasi di Venezuela, seperti Chevron, menjadi faktor pendorong.
Trump mengonfirmasi bahwa AS kini mengambil alih cadangan minyak besar Venezuela dan merekrut perusahaan-perusahaan AS untuk membangun kembali industri minyak yang hancur. “Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” ujarnya, dikutip NY Times.
Dampak Global dan Stabilitas Regional
Langkah AS ini memicu kekhawatiran atas destabilitas politik Amerika Latin dan potensi eskalasi ketegangan internasional. Beberapa analis menyoroti bahwa pengambilalihan sumber daya strategis oleh negara adidaya dapat memperburuk ketegangan ekonomi dan politik global, sekaligus memicu respon militer dari negara-negara yang menentang intervensi AS.
Sementara itu, masyarakat internasional menantikan langkah diplomasi PBB dan tanggapan lebih lanjut dari komunitas global terkait legitimasi operasi militer AS di Venezuela.***












