SAMUDERA NEWS – Duel Bhayangkara Presisi Lampung FC kontra PSM Makassar di Stadion Sumpah Pemuda berakhir imbang 1-1, Sabtu (16/8/2025). Namun, bukan hanya permainan di lapangan yang jadi sorotan, melainkan juga gaya komunikasi dua pelatih kepala: Paul Munster dan Bernardo Tavares.
Pelatih Bhayangkara, Paul Munster, terlihat enggan membuka ruang komunikasi publik. Dalam konferensi pers pra dan pasca laga, jawabannya cenderung normatif, tanpa elaborasi mendalam. Bahkan, ketika disinggung soal harapan publik Lampung agar Bhayangkara bermain adaptif ala Arsenal, ia hanya menepis singkat:
“Saya tidak peduli Arsenal dan Arteta.”
Sementara itu, usai laga, Munster kembali memberi jawaban aman soal kegagalan lini depan memanfaatkan crossing dari sisi sayap.
“Kami kurang memaksimalkan peluang… hal seperti ini memang terjadi di sepak bola,” ujarnya singkat.
Kontras dengan Munster, pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares, justru memanfaatkan betul momen konferensi pers. Dengan gaya lugas, gestur tegas, dan intonasi penuh tekanan, ia bukan sekadar menjawab, melainkan mengajak publik merasakan emosi dan keresahannya.
Bernardo bahkan mengingatkan publik pada sosok Jose Mourinho yang kerap memanfaatkan kamera untuk mengkritik wasit. Ia merinci dua momen krusial yang menurutnya merugikan tim: penalti kontroversial dan pelanggaran handsball yang luput dari pengawasan wasit.
“Dua momen itu sangat menentukan. Tapi perangkat pertandingan tidak konsisten dalam mengambil keputusan,” tegas Bernardo.
Tak hanya soal teknis, Tavares juga bicara terbuka mengenai keterbatasan finansial klub, bahkan menyebut dua pemain incarannya justru jatuh ke tangan Bhayangkara karena faktor dana. Ia mencontohkan perbedaan antara Pep Guardiola dan Jose Mourinho dalam hal privilese finansial, menjadikannya relevan dengan kondisi PSM saat ini.
Lebih jauh, Bernardo mengaitkan atmosfer stadion dengan jalannya laga. Ia terang-terangan membandingkan stadion sepi Pare-Pare dengan Stadion Sumpah Pemuda yang penuh sesak. Baginya, dukungan suporter bisa menjadi faktor psikologis yang memengaruhi keputusan wasit.
“Atmosfer full stadion memberi tekanan. Saat penonton teriak penalti, itu jadi tekanan bagi wasit. Selamat untuk Bhayangkara yang punya stadion dan atmosfer luar biasa,” ujarnya.
Perbedaan gaya komunikasi keduanya tampak jelas. Paul Munster, meski punya rekam jejak positif – membawa Bhayangkara ke empat besar pada 2019 dan Persebaya ke posisi serupa – lebih memilih sikap kalem dan aman. Sebaliknya, Bernardo Tavares tak ragu menyingkap kekurangan timnya, mengkritik wasit, hingga membangkitkan memori juara PSM 2023 untuk menggalang simpati publik.
Dua pelatih, dua gaya, dua cara memainkan panggung di luar lapangan.***












