SAMUDERA NEWS – Pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares, tak dapat menyembunyikan rasa haru usai mendampingi timnya bertanding melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Sumpah Pemuda, Way Halim, Sabtu (16/8/2025).
Pertandingan yang berakhir imbang itu disaksikan lebih dari 6.700 penonton. Atmosfer penuh tekanan dari tribun membuat Tavares kagum sekaligus teringat kembali memori manis ketika PSM mengangkat trofi juara Liga 1 pada musim 2023.
“Hari ini saya terkejut. Sebelumnya saya dengar Bhayangkara tim besar tapi tidak punya suporter, ternyata stadion penuh,” ungkapnya.
Namun di sisi lain, pelatih asal Portugal ini menyampaikan kekecewaannya kepada publik Pare-Pare. Pada laga kandang melawan Persijap Jepara sebelumnya, ia kecewa melihat stadion B.J. Habibie yang hanya terisi setengah kapasitas.
“Saya sedikit frustrasi. Kita punya banyak suporter, tapi stadion kosong. Kalau klub ini ingin jadi besar, mereka harus datang langsung ke stadion,” tegasnya.
Menurut Tavares, dukungan suporter bukan hanya soal atmosfer, tetapi juga bisa memengaruhi jalannya pertandingan. Ia mencontohkan keputusan wasit memberi penalti kepada Bhayangkara Lampung, yang diyakininya lahir dari tekanan suara ribuan penonton.
“Kalau stadion sepi, tanpa teriakan ‘penalti’, mungkin wasit tak akan memutuskan begitu,” ujarnya.
Kenangan juara dua musim lalu kembali terlintas di benaknya. Saat itu, stadion di Sulawesi selalu penuh, dan dukungan total suporter menjadi energi besar yang mengantar PSM Makassar mengakhiri penantian panjang 23 tahun.
Kini, Tavares berharap atmosfer serupa bisa kembali hadir untuk PSM di musim baru. Bagi dirinya, suporter adalah ruh sepak bola.***












