• Redaksi
  • Tentang Kami
Thursday, October 29, 2026
Samudera News
  • Login
  • Register
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
No Result
View All Result
  • ANIME
  • EKBIS
  • ENTERTAINTMENT
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
Home Berita

Budiyono: Intelektual Organik yang Menyulut Bara Kesadaran dari Kampus ke Rakyat

MeldabyMelda
20/10/2025
in Berita
Budiyono: Intelektual Organik yang Menyulut Bara Kesadaran dari Kampus ke Rakyat
ADVERTISEMENT

SAMUDERA NEWS— Di tengah dunia akademik yang kian terjebak dalam rutinitas administratif dan komersialisasi ilmu pengetahuan, masih ada sosok yang menolak tunduk pada arus pragmatisme intelektual. Ia bukan sekadar pengajar di ruang kuliah, melainkan penggerak kesadaran sosial yang hidup di antara denyut rakyat. Sosok itu adalah Budiyono, Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung, yang dikenal luas sebagai intelektual organik — seorang cendekiawan yang tidak hanya berpikir untuk rakyat, tetapi juga berjuang bersama rakyat.

Dalam sejarah pemikiran global, Antonio Gramsci pernah menulis dalam Prison Notebooks bahwa setiap kelas sosial yang berjuang untuk perubahan membutuhkan intelektualnya sendiri. Ia membedakan antara intelektual tradisional, yang berdiri di atas menara gading dan merasa netral, dengan intelektual organik — mereka yang tumbuh dari rahim rakyat dan menyalakan api kesadaran di tengah masyarakat. Di antara hiruk pikuk kampus modern yang sering kali kehilangan arah moral, Budiyono hadir sebagai representasi nyata dari intelektual organik tersebut.

Ia bukan sekadar akademisi yang sibuk mengejar indeks sitasi atau akreditasi jurnal internasional. Budiyono menjadikan ilmu hukum sebagai alat pembebasan, bukan sekadar instrumen dominasi. Dalam pandangannya, hukum bukanlah teks beku yang hanya dihafal di ruang kuliah, melainkan arena pertarungan kepentingan yang menentukan nasib manusia. Ia menolak melihat hukum sebagai alat kekuasaan yang menindas, dan sebaliknya menjadikannya sarana emansipasi untuk memperjuangkan keadilan sosial.

BeritaLainnya

Aqrobin A.M. Serukan Generasi Muda Berani Mengawasi Anggaran dan Kekuasaan

Dudung Abdurachman Dorong Pendekatan Humanis untuk Pulihkan Keamanan di Papua Barat Daya

Sebagai pengajar, Budiyono dikenal oleh mahasiswanya sebagai sosok yang membuka ruang dialog dan berpikir kritis. Ia tidak mengajar dengan cara menggurui, tetapi menantang. Setiap kuliahnya menjadi ruang diskusi yang menggugah nalar dan hati. Ia menuntun mahasiswanya untuk bertanya: “Hukum berpihak pada siapa?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi menjadi pemantik kesadaran untuk melihat bagaimana sistem hukum sering kali diperalat oleh kekuasaan. Di tangan Budiyono, teori hukum menjadi alat analisis sosial yang tajam, bukan sekadar kumpulan pasal di atas kertas.

Namun, keistimewaan Budiyono tidak berhenti di ruang kelas. Ia turun langsung ke medan sosial — mendampingi buruh yang ditindas, petani yang tergusur, dan mahasiswa yang memperjuangkan hak-haknya. Dalam setiap langkah advokasinya, Budiyono tidak berdiri sebagai pengamat netral, melainkan bagian dari perjuangan itu sendiri. Baginya, netralitas intelektual hanyalah mitos. “Pengetahuan selalu berpihak,” katanya dalam satu diskusi publik, “dan keberpihakan yang sejati adalah kepada mereka yang tertindas.”

ADVERTISEMENT

Pandangan ini menjadikannya sebagai figur langka di dunia kampus yang sering kali terjebak dalam zona nyaman. Budiyono percaya bahwa universitas bukanlah korporasi pengetahuan, melainkan ruang publik kritis di mana ilmu harus berpadu dengan keberanian moral. Ia menolak logika neoliberalisme pendidikan yang mengubah mahasiswa menjadi konsumen dan dosen menjadi operator sistem. Dalam berbagai forum akademik, ia sering mengutip Paulo Freire — tokoh pedagogi kritis asal Brasil — yang menyebut pendidikan sebagai praksis kebebasan: proses di mana manusia belajar membaca dunia untuk kemudian mengubahnya.

Budiyono menerjemahkan gagasan itu ke dalam konteks lokal Lampung. Ia menjadikan fakultas hukum bukan sekadar tempat memproduksi sarjana, tetapi arena membangun kesadaran sosial. Melalui kerja pengabdian masyarakat, penelitian lapangan, dan advokasi hukum rakyat, ia menunjukkan bahwa ilmu hukum bisa menjadi alat perjuangan bagi keadilan sosial dan reformasi struktural.

Ketika banyak akademisi berlomba menulis jurnal tanpa suara, Budiyono menulis untuk menggugah. Ketika banyak dosen memilih aman dari kritik, ia justru berdiri di garis depan membela mereka yang tidak punya suara. Ia menjadikan Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan sekadar slogan, tetapi komitmen moral: pendidikan untuk membebaskan, penelitian untuk mengungkap ketimpangan, dan pengabdian untuk memanusiakan manusia.

Keberaniannya berbicara dan bertindak menjadikannya figur inspiratif di mata mahasiswa dan aktivis muda. Bagi mereka, Budiyono bukan sekadar dosen, melainkan guru kehidupan. Sosok yang menunjukkan bahwa menjadi intelektual bukan berarti berjarak dari rakyat, melainkan hadir di tengah mereka — mendengarkan, memahami, dan berjuang bersama.

Kini, di usia 51 tahun, Budiyono bukan hanya menyandang predikat akademisi senior, tetapi juga simbol keberanian intelektual yang konsisten menyalakan bara kesadaran di tengah kabut pragmatisme zaman. Ia membuktikan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang berpihak pada kemanusiaan. Ia menolak menjadi “intelektual menara gading” dan memilih menjadi “intelektual jalanan” yang berbicara dengan bahasa rakyat dan berjuang bersama mereka.

Dalam konteks sosial-politik Indonesia hari ini, di mana ketimpangan masih menganga dan hukum sering kehilangan rasa keadilan, figur seperti Budiyono menjadi oase. Ia hadir untuk mengingatkan bahwa tugas sejati intelektual bukan hanya menulis dan mengajar, tetapi juga melawan. Melawan ketidakadilan, melawan hegemoni, dan melawan diamnya nurani.

Melalui kehidupannya, Budiyono menegaskan makna sejati dari intelektualitas: berpikir kritis, berjiwa sosial, dan berani bertindak. Dalam dirinya, teori Gramsci menemukan kehidupan nyata — bahwa seorang intelektual organik bukanlah yang hidup di atas rakyat, melainkan yang hidup bersama rakyat dan berjuang demi mereka.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: AntonioGramsciBudiyonoDosenBergerakGhraitoAripIntelektualOrganikPauloFreirePendidikanPembebasanUniversitasLampung
ShareSendShareTweetShare
Previous Post

Lapas Kalianda dan BNNK Lampung Selatan Bersinergi Jalankan Rehabilitasi Sosial, Wujudkan Pemasyarakatan Bersih dari Narkoba

Next Post

Kasus Perampokan Gadis Wonosobo Ternyata Rekayasa! Polisi Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Cerita Viral

Related Posts

Aqrobin A.M. Serukan Generasi Muda Berani Mengawasi Anggaran dan Kekuasaan
Berita

Aqrobin A.M. Serukan Generasi Muda Berani Mengawasi Anggaran dan Kekuasaan

28/10/2026
Dudung Abdurachman Dorong Pendekatan Humanis untuk Pulihkan Keamanan di Papua Barat Daya
Berita

Dudung Abdurachman Dorong Pendekatan Humanis untuk Pulihkan Keamanan di Papua Barat Daya

28/10/2026
ATR/BPN Perkuat Pembinaan PPAT untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Pertanahan
Berita

ATR/BPN Perkuat Pembinaan PPAT untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Pertanahan

28/10/2026
Pencatatan Aset Negara Bermasalah, UU Reforma Agraria Buka Jalan Pemulihan Hak Tanah
Berita

Pencatatan Aset Negara Bermasalah, UU Reforma Agraria Buka Jalan Pemulihan Hak Tanah

28/10/2026
BNNKLS Gaungkan Semangat Pemuda Bersinar untuk Selamatkan Generasi Emas 2045
Berita

BNNKLS Gaungkan Semangat Pemuda Bersinar untuk Selamatkan Generasi Emas 2045

28/10/2026
Bukan Sekadar Seremoni, Bapas Kotabumi Dorong Generasi Muda Bangun Karakter
Berita

Bukan Sekadar Seremoni, Bapas Kotabumi Dorong Generasi Muda Bangun Karakter

28/10/2026
Next Post
Kasus Perampokan Gadis Wonosobo Ternyata Rekayasa! Polisi Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Cerita Viral

Kasus Perampokan Gadis Wonosobo Ternyata Rekayasa! Polisi Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Cerita Viral

Terbukti Langgar Kode Etik, Tiga Anggota Polres Metro Disanksi Demosi, Tapi Belum Dieksekusi! Publik Pertanyakan Komitmen Polri

Terbukti Langgar Kode Etik, Tiga Anggota Polres Metro Disanksi Demosi, Tapi Belum Dieksekusi! Publik Pertanyakan Komitmen Polri

Kuliah Umum Wagub Jihan Nurlela di UIN Raden Intan: Dorong Wisata Halal Berbasis Dakwah dan Literasi Digital

Kuliah Umum Wagub Jihan Nurlela di UIN Raden Intan: Dorong Wisata Halal Berbasis Dakwah dan Literasi Digital

Mendagri Apresiasi Kinerja Lampung, Provinsi Masuk Zona Hijau Realisasi Anggaran dan Inflasi Terkendali

Mendagri Apresiasi Kinerja Lampung, Provinsi Masuk Zona Hijau Realisasi Anggaran dan Inflasi Terkendali

Polisi Lampung Selatan Salurkan 4.074 Porsi Makanan Bergizi, Kapolda dan Ketua Bhayangkari Turun Langsung Pantau Distribusi

Polisi Lampung Selatan Salurkan 4.074 Porsi Makanan Bergizi, Kapolda dan Ketua Bhayangkari Turun Langsung Pantau Distribusi

Berita Terkini

  • Aqrobin A.M. Serukan Generasi Muda Berani Mengawasi Anggaran dan Kekuasaan
  • Dudung Abdurachman Dorong Pendekatan Humanis untuk Pulihkan Keamanan di Papua Barat Daya
  • ATR/BPN Perkuat Pembinaan PPAT untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Pertanahan
  • Pencatatan Aset Negara Bermasalah, UU Reforma Agraria Buka Jalan Pemulihan Hak Tanah
  • BNNKLS Gaungkan Semangat Pemuda Bersinar untuk Selamatkan Generasi Emas 2045

Berita Populer

  • TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mindful Consumption: Bagaimana Kebiasaan Membeli yang Sadar Membentuk Gaya Hidup Anda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi antara dua raksasa industri hiburan, HYBE dan ADOR, terus mengemuka dengan adanya rilis mengejutkan dari Dispatch yang mengguncang opini publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Daftar Sekolah Kedinasan Terbaru 2024

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infrastruktur Jalan Lampung Memerlukan Pemimpin yang Tindak Tegas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Samudera News

Sebagai portal berita yang berfokus pada keberagaman dan kualitas, kami berkomitmen untuk menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan berimbang kepada pembaca kami.

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In