SAMUDERA NEWS – Dua hari menjelang Idul Fitri, suasana di Pasar Inpres, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alih-alih ramai dengan aktivitas jual beli, pasar justru terlihat sepi. Para pedagang mengeluhkan penurunan omzet yang signifikan akibat berkurangnya jumlah pembeli.
Biasanya, pasar tradisional menjadi pusat perbelanjaan utama warga untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga. Namun, kini banyak lapak pedagang yang kosong, dan mereka yang bertahan hanya bisa berharap ada peningkatan transaksi di menit-menit terakhir sebelum hari raya.
Toko Modern Semakin Menggeser Pasar Tradisional
Fenomena sepinya pasar tradisional ini diduga kuat akibat maraknya toko semi swalayan yang menjamur di sekitar wilayah tersebut. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari pasar, toko-toko modern ini menawarkan pengalaman belanja yang lebih nyaman dengan fasilitas:
✔ Tempat parkir luas
✔ Ruang ber-AC yang sejuk
✔ Barang tertata rapi dan lengkap
Kondisi ini membuat banyak masyarakat lebih memilih berbelanja di toko modern dibanding pasar tradisional, yang dinilai kurang nyaman.
Pedagang Harapkan Perhatian Pemerintah
Beberapa pedagang berharap ada solusi dari pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali pasar tradisional. Revitalisasi pasar, program diskon, atau kegiatan promosi khusus bisa menjadi langkah untuk menarik kembali minat pembeli.
“Kalau begini terus, bagaimana nasib kami? Pasar tradisional lama-lama bisa mati kalau tidak ada perubahan,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Perubahan tren belanja masyarakat memang tak bisa dihindari, namun langkah konkret perlu dilakukan agar pasar tradisional tetap bertahan sebagai roda penggerak ekonomi rakyat.***












