SAMUDERA NEWS — Penggiat barang antik sekaligus Ketua Saburai Culture Community, Rudi Santoso, ternyata tidak hanya menemukan pecahan mangkok atau guci dari China dan Vietnam, uang koin, serta bongkahan yang terindikasi sebagai batu candi yang asumsi sementaranya berasal dari zaman Dinasti Tang hingga Ming di lokasi situs bersejarah Kota Bandar Lampung.
Penemuan terbaru yang diperlihatkan Rudi kepada Sekretaris Komunitas Cagar Budaya, Muhammad Alfariezie, Arief Mulyadin selaku pembina, Arie Sai Bumi, serta Iwang Bagas Tama selaku pengawas, menunjukkan adanya benda yang kemungkinan berasal dari era Neolitikum.
Benda tersebut ditemukan di salah satu area seluas 30 hektare. Namun, lokasi persisnya masih sengaja dirahasiakan oleh Rudi bersama rekan-rekannya.
Benda itu berbentuk seperti gasing, dengan bagian atas dan bawah berlubang. Bentuk tersebut mengindikasikan adanya kemungkinan benda itu digunakan sebagai sarana untuk memasukkan benang atau sejenisnya, menyesuaikan dengan fungsi dan teknologi pada zamannya.
Benda yang terbuat dari terakota atau tanah liat tersebut sudah sangat mengeras. Kondisi itu, menurut Rudi, menandakan bahwa benda tersebut memiliki usia yang sangat tua.
Dari keterangan ahli sejarah, menurut Rudi, benda tersebut kemungkinan merupakan pemberat tenun yang digunakan oleh para pengrajin pada masanya.
“Penemuan di lokasi 30 hektare ini, bro, ada benda yang menurut asumsi saya dari zaman Neolitikum. Ada ahli sejarah dari luar mengatakan alat pemberat tenun,” kata Rudi pada Rabu, 9 September 2026.
Namun, Rudi tidak ingin menerima begitu saja asumsi tersebut tanpa penelitian lebih lanjut, baik melalui kajian literatur maupun analisis morfometri dan metrologi terhadap artefak.
Rudi berkeyakinan, berdasarkan kajian literatur yang dilakukannya, benda temuan tersebut kemungkinan merupakan manik-manik purba yang digunakan sebagai aksesori gelang, kalung, hingga benda pajang oleh masyarakat pada masa Neolitikum.
“Tapi kemungkinan kuat benda yang terbuat dari tanah liat ini ialah manik-manik purba,” ungkapnya.
Meski demikian, dugaan mengenai usia, fungsi, dan asal-usul benda tersebut masih memerlukan penelitian serta kajian lebih lanjut oleh pihak yang memiliki kompetensi di bidang arkeologi dan sejarah.
Temuan tersebut kini menjadi bagian dari perhatian Saburai Culture Community dalam upaya menelusuri berbagai benda yang diduga berkaitan dengan sejarah dan jejak peradaban masa lalu di wilayah Bandar Lampung.








