SAMUDERA NEWS- Guncangan hebat melanda industri film Indonesia dengan munculnya “Vina: Sebelum 7 Hari”, karya sutradara Anggy Umbara. Pada hari pertama penayangannya, Rabu, 5 Agustus 2024, film ini berhasil mencatatkan rekor penonton sebanyak 335.812 orang.
Anggy Umbara mengumumkan prestasi gemilang ini melalui akun resmi perusahaan produksinya, D Company, di platform Instagram pada Kamis (9/5/2024).
Sebagai ungkapan penghormatan, Anggy Umbara juga mengajak untuk bersama-sama mendoakan almarhumah Vina Cirebon. “Terima kasih atas dukungannya. Mari kita lafalkan Al Fatihah untuk mendiang Vina,” tulisnya dalam kolom komentar, yang langsung disambut dengan ucapan terima kasih dari banyak pihak.
Namun, kesuksesan film ini tidak hanya sekadar tentang angka. Anggy Umbara juga memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan pesan penting mengenai kekerasan, khususnya di lingkungan sekolah, yang menjadi latar belakang tragis kasus yang menginspirasi pembuatan film ini.
“Dalam kesuksesan ini, mari kita tidak lupa akan pesan pentingnya untuk menghentikan kekerasan, terutama perundungan di sekolah. Kita semua harus bersatu untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya perundungan,” tegas Anggy Umbara.
Lebih lanjut, sutradara ini juga menyoroti masalah hukum di Indonesia yang masih belum berjalan optimal, khususnya terkait penanganan kasus Vina Cirebon.
“Saya ingin agar masyarakat mengetahui esensi dari pesan yang ingin disampaikan melalui film ini. Kita harus memastikan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan, tidak hanya untuk Vina, tetapi juga untuk semua korban perundungan di masa depan,” ujar Anggy Umbara dengan tegas.
Tak hanya itu, Anggy Umbara juga menyerukan kepada aparat kepolisian untuk mengintensifkan upaya penangkapan terhadap tersangka yang masih buron.
“Saya berharap penegakan hukum tidak hanya tajam ke bawah, tetapi juga tumpul ke atas. Mari bersama-sama menjaga lingkungan, menghentikan perundungan, dan menyuarakan keadilan bagi semua korban,” tandasnya.
Sementara itu, Dheeraj Kalwani, produser dari D Company, mengungkapkan alasan di balik keputusan pihak keluarga untuk mengangkat tragedi Vina ke layar lebar.
“Dengan adanya film ini, kami berharap tidak hanya memperoleh keadilan bagi Vina, tetapi juga menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak akan ditoleransi. Kami yakin, bersama dukungan penonton dan tindakan tegas dari pihak berwenang, keadilan akan tercapai,” ujar Dheeraj Kalwani.
Kehadiran “Vina: Sebelum 7 Hari” tidak hanya sebagai sebuah karya seni, tetapi juga sebagai sebuah panggilan untuk bersatu melawan kekerasan dan memperjuangkan keadilan bagi semua.***












