SAMUDERA NEWS- Rumah duka di Kelapa Tujuh, Kotabumi, Lampung Utara, penuh sesak oleh duka. Lebih dari seribu pelayat, dari rakyat hingga tokoh elite, datang mengantar kepergian terakhir Bachtiar Basri, mantan Wakil Gubernur Lampung 2014–2019. Ia wafat pada Kamis, 15 Mei 2025, di RSUD Abdul Moeloek, dan dimakamkan keesokan harinya seusai salat Jumat.
Nama Bachtiar Basri dikenal luas sebagai birokrat dan politisi. Namun, hanya segelintir yang mengenal sisi lain dirinya—seorang seniman rupa yang produktif dan penuh semangat. Karya-karyanya tidak hanya menghiasi dinding rumah pribadi, tetapi juga terpampang di buku-buku sastra, termasuk buku puisi dan cerpen saya pribadi. Salah satu lukisannya bahkan dikoleksi oleh mantan Wakil Bupati Tubaba, Fauzi Hasan.
Perkenalan saya dengan “Bang Bach”, begitu saya memanggilnya, dimulai dari jejak kesenian. Ia di seni rupa, saya di sastra. Hubungan kami semakin erat saat beliau menjabat Sekda di Lampung Utara, lalu berlanjut ketika ia memimpin Kabupaten Tulang Bawang Barat. Bang Bachtiar bahkan membantu penerbitan cerpen saya, Perempuan di Rumah Panggung, yang kemudian masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa.
Kepeduliannya pada seni tak hanya berhenti pada kata. Lamban Sastra yang saya kelola pernah difasilitasi tempat oleh Bang Bachtiar—bahkan rumahnya sendiri di Tanjung Senang pernah ia pinjamkan. Sosok yang bersahaja, dermawan, dan mencintai kebudayaan dalam diam.
Setelah tak lagi menjabat wagub, Bachtiar kembali sepenuhnya pada lukisan. Kreativitasnya seakan tak bisa dibendung. Kanvas dan cat menjadi sahabat setianya. Ratusan karya ia hasilkan, tersebar di beberapa tempat: di rumah pribadinya, studio lantai dua, bahkan di Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO) tempat ia menghibahkan beberapa lukisan.
Sebagian karya lukisnya saya jadikan sampul buku, termasuk Burung tak Bersayap karya Dalem Tehang dan Satu Ciuman Dua Pelukan (Januari 2025). Ia selalu menerima buku-buku tersebut dengan penuh syukur dan tak jarang membaca puisi saya dengan antusias. Saya pun membalasnya dengan kekaguman pada gaya lukisnya yang ekspresif dan impresif, meski saya bukan kritikus seni rupa.
14 April 2025, pertemuan terakhir kami berlangsung hangat. Masih dalam suasana Idulfitri, kami berbincang lama, dari percakapan ringan hingga rencana besar. Bang Bachtiar mengungkapkan niatnya untuk menggelar pameran tunggal di luar Lampung. Jakarta atau Bandung, katanya. Ia merasa sudah saatnya, melihat jumlah dan kualitas karya yang ia miliki.
Saya mendukung sepenuhnya. Karya Bachtiar layak dinikmati lebih luas, layak dikoleksi para pecinta seni dari berbagai penjuru. Namun takdir berkata lain. Ia wafat sebelum sempat mewujudkan niat itu.
Kini, karya-karya itu menjadi warisan artistik yang tak ternilai. Ia meninggalkan jejak bukan hanya di panggung politik, tetapi juga di panggung seni rupa. Sudah sepatutnya kita—masyarakat, pemerintah daerah, dan komunitas seni—mengangkat kembali niat mulia almarhum: sebuah pameran tunggal yang merayakan perjalanan hidup dan ekspresi estetikanya.
Sebab, seorang seniman tak benar-benar pergi. Ia hidup dalam karya yang ditinggalkan.
Lamban Sastra, 18–19 Mei 2025
Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan nasional yang bermukim di Lampung.***












