SAMUDERA NEWS– Pemerintah Provinsi Lampung melalui program Desaku Maju mendapat apresiasi langsung dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Program yang digagas Gubernur Rahmat Mirzani Djausal ini dinilai mampu membangun ekosistem ekonomi desa yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Apresiasi itu disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris saat kunjungan kerja mewakili Menko PM Muhaimin Iskandar di Desa Bumi Daya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (9/7/2025).
“Program Desaku Maju sangat sejalan dengan visi Presiden membangun dari desa dan menuntaskan ketimpangan ekonomi,” kata Haris dalam pertemuan yang juga dihadiri Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dan Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar.
Wagub Jihan menegaskan, kunjungan dari Kemenko PM adalah bentuk dukungan pusat terhadap langkah konkret daerah dalam memberdayakan masyarakat desa.
“Ini bukan hanya simbolis, ini bentuk kepercayaan bahwa program kita dinilai tepat sasaran dan berpihak pada rakyat,” kata Jihan.
Ia menyebut Desaku Maju lahir dari kesadaran atas paradoks ekonomi desa: sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar PDRB Lampung, namun angka kemiskinan tertinggi justru ada di desa.
“Produksi padi kita mencapai 2,7 juta ton tahun 2024, tapi tanpa hilirisasi nilainya hanya Rp20 triliun. Padahal kalau digiling di desa, bisa bernilai hingga Rp39 triliun. Inilah potensi ekonomi desa yang selama ini belum tergarap maksimal,” ujarnya.
Program Desaku Maju hadir dengan strategi terpadu, mulai dari penyediaan dryer, pupuk organik cair, pelatihan teknisi alsintan, digitalisasi UMKM, penguatan BUMDes, hingga pembangunan infrastruktur desa.
“Selama ini banyak bantuan alsintan mubazir karena tidak ada teknisi lokal. Maka kami latih teknisi, bukan hanya bagi alat, tapi juga demi keberlanjutan ekonomi desa,” tambahnya.
Wagub Jihan juga mengingatkan bahwa desa harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek produksi.
“Desa sudah bangun jalan, sekolah, layanan kesehatan. Sekarang saatnya desa jadi pusat perhatian pembangunan, bukan titik buta,” tegasnya.
Kepada pemerintah pusat dan BUMN, Jihan meminta dukungan melalui CSR serta skema pembiayaan pro-rakyat untuk mengakselerasi program ini.
Deputi Abdul Haris menanggapi bahwa paradigma pembangunan harus bergeser dari sekadar bantuan menuju pemberdayaan.
“Bantuan itu sementara, tapi berdaya itu selamanya. Maka program seperti Desaku Maju ini sangat penting,” ujarnya.
Haris menambahkan, angka kemiskinan nasional masih di 8,57 persen, dan pemerintah menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem pada 2026. Dalam kerangka itu, Lampung disebut sebagai contoh daerah yang bergerak cepat dan strategis.
Sebagai bentuk dukungan, Kemenko PM menyerahkan bantuan alat pertanian berupa 1 unit Combine Harvester, bed dryer kapasitas 20 ton, serta sarana pendukung pertanian lainnya kepada Gapoktan Bersama Desa Bumi Daya.
“Kami percaya, upaya sekecil apa pun, jika konsisten dan terarah, akan memberikan hasil nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Haris.***












