SAMUDERA NEWS – Sabtu, 6 Agustus 2025 menjadi hari yang penuh arti bagi para eks petambak Dipasena di Kabupaten Tulangbawang, Lampung. Setelah bertahun-tahun menghadapi masa sulit akibat berakhirnya pola kemitraan dengan perusahaan inti, para petambak akhirnya mulai bangkit dan menata kembali tambak mereka secara mandiri. Semangat kebersamaan dan kerja keras perlahan memulihkan kejayaan Bumi Dipasena, yang dahulu dikenal sebagai salah satu sentra udang terbesar di Indonesia.
Pada era 1990-an, Lampung sempat menjadi produsen udang nomor satu di Tanah Air berkat pola kemitraan dengan PT Dipasena Citra Darmaja dan PT Central Pertiwi Bahari. Namun, kejayaan itu meredup seiring dengan merosotnya kerja sama, hingga Lampung kini berada di posisi kelima sebagai penghasil udang nasional. Kondisi itu mendorong berbagai pihak untuk melakukan pembenahan besar-besaran agar kejayaan lama bisa kembali terulang.
Direktur PT Sakti Biru Indonesia (SBI), Suseno Reffandi, menegaskan bahwa pemerintah pusat maupun daerah turut berperan penting dalam mendukung kebangkitan ini. “Baik pemerintah pusat maupun daerah terus berupaya agar pertambakan Lampung, khususnya di Bumi Dipasena, bisa bangkit dan berjaya kembali,” ujarnya.
Tantangan yang Dihadapi Petambak
Meski kaya pengalaman, para petambak tidak lepas dari beragam kendala serius. Kualitas air dan lingkungan yang terus menurun, minimnya infrastruktur, tidak adanya standar operasional baku (SOP), hingga keterbatasan modal menjadi hambatan besar yang membuat produksi tidak stabil. Situasi ini sempat menurunkan kepercayaan diri petambak, namun dukungan dari berbagai pihak perlahan mengubah keadaan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, PT SBI menjalin kerja sama dengan Badan Pengurus Wilayah (BPW) Bumi Dipasena Makmur (BDM) di bawah BPP P3UW Lampung. Fokus utama kerja sama ini adalah memperbaiki sistem produksi, memperkenalkan SOP budidaya yang terukur, serta menyiapkan sistem pendukung agar hasil produksi lebih konsisten dan berdaya saing.
Pelatihan dan Pendampingan Teknis
Sebagai bentuk nyata dukungan, PT SBI mengadakan pelatihan gratis bagi perwakilan petambak di fasilitas riset dan produksi mereka di Suak, Lampung Selatan. Materi pelatihan meliputi manajemen persiapan kolam, teknik pemberian pakan pada masa kritis awal budidaya, serta pengecekan anco secara rutin. Para peserta pelatihan ini diharapkan mampu menjadi agen perubahan bagi kelompoknya masing-masing, menyebarkan ilmu dan keterampilan baru kepada petambak lain di wilayahnya.
Selain SOP, PT SBI juga mendukung kebutuhan petambak dengan penyediaan benur, probiotik, serta pakan tambahan. Skema pembayaran dibuat ringan agar tidak membebani biaya produksi. “Kami ingin SOP ini benar-benar berjalan optimal dan membawa hasil nyata,” tegas Suseno.
Panen Raya Sebagai Momentum Kebangkitan
Untuk menandai kembalinya semangat Dipasena, panen raya udang dijadwalkan berlangsung pada 10–12 September 2025. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, telah menyatakan kesediaannya hadir dalam acara ini. Panen raya tersebut bukan hanya simbol keberhasilan teknis, tetapi juga momentum kebangkitan ekonomi masyarakat setempat.
BPW Bumi Dipasena Makmur saat ini membawahi dua blok tambak, yakni Blok 10 dan Blok 11, dengan total 1.200 kepala keluarga serta 2.400 petak tambak. Para petambak mulai merasakan hasil positif dari sistem baru yang diterapkan. “Kami sangat terbantu. Ada kekeluargaan di antara petambak, dan dengan SOP baru ini produksi mulai menunjukkan tren perbaikan. Semoga bisa menjadi percontohan bagi tambak lainnya,” ungkap Sukri, salah satu perwakilan petambak.
Peran Besar PT Sakti Biru Indonesia
Sebagai perusahaan perudangan terintegrasi, PT SBI mengelola seluruh rantai usaha, mulai dari hatchery, nursery, pembesaran, hingga perdagangan pascapanen. Perusahaan ini juga tengah mempersiapkan pembangunan unit cold storage yang dapat menjaga kualitas udang hingga siap dipasarkan.
Selain itu, PT SBI memiliki lini usaha pendukung berupa produksi probiotik, feed additive berbahan dasar maggot, serta laboratorium RT-PCR yang mampu mendeteksi hingga tujuh jenis penyakit udang secara dini. Langkah ini diyakini mampu meminimalisir kerugian akibat serangan penyakit, sekaligus meningkatkan produktivitas tambak.
“Dengan pengalaman dan kompetensi yang kami miliki, ditambah antusiasme kerja sama dari para petambak, kami optimistis dapat mendorong petambak eks Dipasena kembali berjaya dan mengembalikan Lampung ke peta utama produksi udang nasional,” kata Suseno penuh keyakinan.
Bangkitnya para petambak eks Dipasena menjadi cerminan betapa semangat kolektif, dukungan teknologi, dan kebijakan tepat dapat menghidupkan kembali sebuah wilayah yang sempat terpuruk. Panen raya udang bukan sekadar agenda tahunan, tetapi sebuah simbol kebangkitan ekonomi lokal dan harapan baru menuju Lampung sebagai lumbung udang nasional.***












