SAMUDERA NEWS – Suasana berbeda kini tampak di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Dharmasraya, Sumatera Barat. Sebuah kolam besar yang dulunya terbengkalai kini disulap menjadi jalan dan area fungsional yang tertata rapi. Transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga wadah perubahan menuju tata kelola yang lebih modern dan efisien.
Langkah perombakan yang digagas Kepala Lapas Kelas III Dharmasraya, Ferdika Canra, merupakan bagian dari program besar penataan lingkungan dan efisiensi ruang di dalam lapas. Pihak lapas menilai, area kolam yang lama sudah tidak efektif lagi dimanfaatkan, bahkan sering menimbulkan kendala kebersihan dan keamanan.
“Perombakan kolam ini merupakan bentuk optimalisasi ruang. Area yang tadinya tidak produktif kini kita ubah menjadi jalur penghubung strategis yang memperlancar mobilitas petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Selain itu, ini juga membuat lingkungan terlihat lebih tertata dan nyaman,” ujar Ferdika Canra saat ditemui di lokasi kegiatan, Rabu (15/10/2025).
Menurutnya, proyek ini tidak sekadar tentang pembangunan fisik, tetapi juga mencerminkan semangat pembinaan dan kolaborasi. Seluruh proses pengerjaan melibatkan petugas lapas bersama para WBP. “Kami ingin melatih tanggung jawab dan keterampilan mereka. Dengan ikut bekerja, mereka tidak hanya mengisi waktu dengan hal positif, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang bermanfaat setelah bebas nanti,” tambah Ferdika.
Proses pengerjaan sendiri dilakukan bertahap, dimulai dari pengeringan kolam, pembongkaran struktur lama, hingga penataan ulang area di sekitarnya. Pengawasan langsung dilakukan oleh PLH Kasubsi Kamtib, Rusja Hendri, untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan aman, tertib, dan sesuai prosedur.
“Kami menjaga agar setiap tahap berjalan sesuai standar keselamatan. Para petugas dan WBP bekerja dengan semangat gotong royong, dan hasilnya sudah mulai terlihat. Area yang dulu becek dan tidak terawat kini berubah menjadi jalur yang kuat, bersih, dan estetis,” ujar Rusja Hendri.
Menariknya, para WBP menyambut proyek ini dengan antusias. Salah satu di antara mereka, Ayak, mengaku bangga bisa ikut berpartisipasi langsung dalam proses pembangunan tersebut. “Kami senang bisa ikut bekerja dan belajar. Selain menambah pengalaman di bidang konstruksi, kami merasa turut memiliki tanggung jawab terhadap tempat kami menjalani masa pembinaan,” ungkapnya.
Transformasi area kolam ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang Lapas Dharmasraya dalam mewujudkan lingkungan pemasyarakatan yang mendukung program pembinaan. Ke depan, area baru tersebut akan difungsikan sebagai jalur penghubung menuju beberapa titik kegiatan pembinaan, sekaligus ruang terbuka bagi aktivitas edukatif dan rekreasi warga binaan.
Selain manfaat fungsional, perubahan ini juga mencerminkan paradigma baru pemasyarakatan di Indonesia: lembaga yang lebih humanis, produktif, dan berorientasi pada efisiensi. Langkah Lapas Dharmasraya ini sejalan dengan visi Kementerian Hukum dan HAM untuk menciptakan lapas yang bersih, hijau, dan ramah lingkungan.
“Pekerjaan ini memang sederhana, tapi dampaknya besar. Kami ingin lingkungan lapas bukan hanya tertib secara administrasi, tetapi juga indah dipandang dan nyaman untuk semua,” tutur Ferdika menutup pernyataannya.
Dengan perubahan yang signifikan ini, Lapas Dharmasraya menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Dari sebuah kolam yang sunyi, kini lahir simbol baru semangat pembaruan: jalan menuju lapas yang tertib, bersih, dan penuh harapan.***












