SAMUDERA NEWS- Sosok Muhammad Harya Ramdhoni Julizarsyah bukan hanya sekadar nama dalam ingatan saya. Ia menghubungkan saya dengan banyak orang dan peristiwa dalam rentang waktu lebih dari setengah abad. Ada begitu banyak penggalan cerita yang layak untuk dikenang.
Doni, Sang Demonstran Muda
Tahun 1998, saat saya menjadi guru honorer di SMAN 1 Liwa, terjadi demonstrasi siswa yang diduga terpengaruh suasana Reformasi. Saat itu, seorang siswa kelas dua menjadi pemimpin aksi protes terhadap kebijakan sekolah. Namanya Doni, anak pejabat di Pemkab Lampung Barat. Saya hanya mendengar namanya—tanpa menyangka bahwa kelak, ia akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya.
Pertemuan dan Novel Perempuan Penunggang Harimau
Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 2009, Doni datang ke rumah saya di Kurungan Nyawa, Pesawaran bersama Galih Priadi. Kami berbincang tentang dunia sastra dan keinginannya menulis novel sejarah Kerajaan Sekala Brak.
Setahun setelahnya, bersama Y Wibowo, kami serius menggarap naskah novel tersebut. Lahirlah “Perempuan Penunggang Harimau”, novel berlatar sejarah yang menggabungkan fakta dan fiksi. Novel ini diterbitkan oleh BE Press, Bandar Lampung, pada Januari 2011, dengan peluncuran yang mendapat apresiasi luar biasa.
Doni awalnya berencana menulis pentalogi kisah Sekala Brak. Namun, setelah novel pertamanya, ia justru menerbitkan Hikayat Orang-Orang yang Berjalan di Atas Air (2012), Murah Delima Bang Amat (2017), Sihir Lelaki Gunung (2018), dan Kitab Pernong (2021). Buku puisinya dalam bahasa Lampung, Semilau (2017), bahkan memenangkan Hadiah Sastra Rancagé 2018.
Dosen, Politikus, dan Pengembara Literasi
Lahir di Solo, 15 Juli 1981, Doni adalah dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung (Unila) selama lebih dari 10 tahun. Namun, pada 1 April 2018, ia mengejutkan banyak pihak dengan mengundurkan diri sebagai PNS untuk masuk ke dunia politik melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pada tahun 2019, kami kembali dipertemukan dalam Gerakan Literasi Daerah Lampung Barat. Setelah itu, komunikasi kami lebih sering terjadi lewat buku-bukunya, yang selalu ia kirim langsung kepada saya.
Kepergian yang Mengejutkan
Sejak 2022, Doni seolah menghilang dari media sosial. Hingga akhirnya, kabar duka datang di malam 19 Maret 2025. Ia berpulang pada pukul 19.32 WIB.
Sastrawan Rilda A Oe Taneko, yang tinggal di Inggris, mengira Doni tengah bersemedi untuk menyelesaikan karyanya. Dugaan itu terbukti benar lewat komentar Evit Wong Setiawan, pelukis cover novelnya:
💬 “Baru beberapa bulan lalu ia berkabar soal novel yang akan terbit lagi. Ya Allah, Brother… Saya bersaksi engkau orang baik. Selamat jalan. Al-Fatihah.”
Selamat jalan, Bung Doni. Karyamu akan terus abadi dan menjadi ladang amal yang tak putus mengalir. Amin.***












