SAMUDERA NEWS— Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII yang diikuti oleh delegasi dari lima negara resmi dibuka di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahullah Tamary, dan Direktur Bina SDM Lembaga dan Pranata Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti SS MSP, Kamis malam (11/9).
PPN XIII merupakan kelanjutan dari rangkaian pertemuan penyair Nusantara yang pertama kali digagas di Medan, Sumatera Utara, pada 2007. Sejak itu, kegiatan ini telah berlangsung 13 kali, dengan pola rotasi setiap dua tahun berpindah kota dan negara, termasuk Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Indonesia. Tujuan utama PPN adalah menjaga semangat persaudaraan, perdamaian, dan kreativitas literasi di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Ketua Panitia PPN XIII, Ahmadun Yosi Herfanda, menjelaskan bahwa acara kali ini diikuti ratusan penyair dari lima negara yang lolos proses kurasi, ditambah sejumlah peninjau dan tokoh budaya. “Ratusan penyair berkumpul di Jakarta untuk berbagi gagasan, membaca puisi, serta memupuk semangat persaudaraan dan perdamaian yang mulai mengendur akibat perang dan konflik di berbagai belahan dunia,” ujarnya.
Acara pembukaan juga dihadiri tokoh-tokoh sastra ternama, antara lain Ketua DKJ Bambang Prihadi, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, LK Ara, Taufik Ikram Jamil, Ulfatin Ch., Fakhrunnas MA Jabbar, Anwar Putra Bayu, serta perwakilan internasional seperti Shamsudin Othman, Norhayati Ab. Rahman, Zefri Ariff, Jawawi Bin Hj. Ahmad, dan Prof. Dr. Asmiaty Amat.
Pembukaan dimeriahkan dengan pertunjukan musik tradisional Gambang Kromo dan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair, termasuk Imam Maarif, Helvy Tiana Rosa, serta perwakilan dari Malaysia dan Singapura. Kolaborasi unik ditampilkan oleh Ananda Sukarlan dan Ratna yang mengadaptasi puisi karya penyair Indonesia ke dalam komposisi musik, menciptakan pengalaman sastra interaktif bagi para peserta dan penonton.
Hari kedua, Jumat (12/9), PPN XIII memasuki agenda seminar dan baca puisi. Seminar pertama menghadirkan pembicara internasional, di antaranya H. Jawawi Bin Hj. Ahmad dari Brunei Darussalam, Prof. Dr. Asmiaty Amat (Malaysia), dan Nik Rakib Nik Hassan (Thailand), serta narasumber dari Indonesia seperti Nissa Rengganis dan Dr. Ganjar Harimansyah. Diskusi membahas peran sastra dalam membangun identitas budaya, memupuk perdamaian, dan memanfaatkan literasi kreatif sebagai media diplomasi budaya antarnegara.
Malam harinya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memberikan orasi kebudayaan sebelum sesi baca puisi dan musikalisasi puisi. Pertunjukan ini menampilkan Sanggar Musikalisasi Puisi bersama Sanggar Matahari, yang melibatkan anak-anak disabilitas dalam kolaborasi kreatif, memperkuat pesan inklusivitas dan keterlibatan masyarakat luas dalam literasi sastra.
Para tokoh budaya dan pejabat yang ikut membaca puisi malam itu antara lain Walikota Banda Aceh Illiza Sa’adudin Djamaluddin, Farah Savira (Anggota DPRD DKI Jakarta), Bupati Bireuen H. Muklis S.T., Chicha Koeswoyo, Awwabin Helmi (Thailand), Isbedy Stiawan ZS, Fikar W Eda, Wan Nuryani, Ratna Ayu Budiarti, dan Ulfatin Ch.
Ahmadun Yosi Herfanda menegaskan, PPN XIII bukan sekadar forum sastra, tetapi momentum penting untuk memperkuat persaudaraan antarbangsa melalui karya sastra, sekaligus memicu kreativitas generasi muda agar berkarya positif. “Kami berharap setiap peserta membawa pulang pengalaman yang memperkaya literasi dan memperkuat jalinan budaya, sehingga semangat persaudaraan yang dibangun PPN terus terjaga di Nusantara maupun di kancah internasional,” pungkasnya.***












