SAMUDERA NEWS– Kehadiran film horor terbaru “Danyang Wingit Jumat Kliwon” langsung mengguncang jagat perfilman tanah air dengan penyajian teror yang berpadu kuat dengan mitos budaya Jawa. Tidak hanya menghadirkan kisah mistis yang jarang diangkat, film ini juga menarik perhatian publik karena keterlibatan sosok tak terduga: Putri Maya Rumanti, pengacara asal Lampung, yang tampil memukau sebagai Bintari.
Putri, yang selama ini dikenal publik sebagai advokat muda yang vokal, muncul dalam film ini dengan totalitas berbeda. Perannya sebagai sinden yang terseret ke dalam ritual gelap menjadi salah satu elemen penting yang memperkuat alur film. Penampilannya bahkan menuai banyak komentar karena dianggap mampu menghidupkan karakter Bintari dengan kuat, emosional, dan penuh aura mistis.
Dalam pemutaran film di Bandar Lampung, Putri membongkar fakta mengejutkan di balik proses kreatif film ini. Ia mengungkapkan bahwa kisah horor yang diangkat bukan sekadar khayalan, melainkan hasil riset mendalam hingga ke lereng Gunung Merbabu. Dari penelusuran itu, tim produksi menemukan cerita mengenai wayang kulit yang dibuat dari kulit manusia—sebuah praktik kelam yang menjadi pusat misteri dalam film.
“Cerita ini bukan karangan belaka. Tim menelusuri sumber-sumbernya selama setahun penuh. Ada kisah wayang dari kulit manusia yang benar-benar kami temukan jejaknya. Kami bahkan diizinkan mempelajari beberapa ritualnya,” ujar Putri.
Ia menjelaskan bahwa awalnya tidak pernah terpikir untuk terjun ke dunia film, apalagi genre horor. Namun rasa penasaran terhadap budaya dan unsur spiritual Jawa mendorongnya menerima tawaran tersebut.
“Saya bukan sedang pindah profesi. Ketertarikan saya ada pada mitos dan ritual budaya yang menjadi fondasi cerita film ini,” jelasnya.
Sebagai Bintari, Putri memerankan seorang sinden yang dijadikan calon tumbal dalam ritual Ki Mangun Suroto, sang dalang yang terobsesi dengan power dan keabadian. Peran ini menuntutnya untuk mendalami karakter perempuan Jawa yang berada di ambang ketakutan, kepasrahan, sekaligus perlawanan batin.
“Sinden ini disiapkan sebagai tumbal agar dalangnya mendapatkan kesaktian. Karakter ini punya beban emosional sangat berat, dan itu menjadi tantangan tersulit bagi saya,” ungkap Putri.
Film “Danyang Wingit Jumat Kliwon” sendiri mengusung atmosfir horor yang kental dengan unsur budaya Jawa. Alunan gamelan, ritual pemanggilan roh, hingga dunia kelam padepokan membuat suasana film terasa autentik dan menegangkan. Putri menyebut film ini bukan hanya menghadirkan teror, tetapi juga menyisipkan pesan moral yang harus dicermati penonton.
“Ada pesan penting di film ini. Kita diajak lebih waspada, jangan mudah percaya kepada siapa pun, bahkan jika orang tersebut terlihat baik,” ucapnya.
Selain Putri, film ini diperkuat oleh deretan aktor seperti Celine Evangelista sebagai Citra dan Fajar Nugra sebagai Bara. Keduanya menjadi poros utama cerita yang membawa penonton menyusuri misteri hilangnya penghuni padepokan satu per satu. Sementara Whani Darmawan, Djenar Maesa Ayu, dan beberapa pemain lain menambah kedalaman karakter serta memperkuat nuansa kelam film.
Cerita film berpusat pada perjalanan Ki Mangun Suroto, dalang yang menempuh jalan gelap dengan menggunakan wayang kulit dari kulit manusia sebagai sarana ritual untuk mencapai keabadian. Penggabungan riset budaya, mitos yang otentik, dan kisah tragis para korban menjadikan film ini lebih dari sekadar tontonan horor biasa.
Dengan atmosfer yang mencekam, latar budaya Jawa yang kental, serta fakta-fakta mengejutkan yang ditemukan tim produksi, “Danyang Wingit Jumat Kliwon” berhasil menempatkan dirinya sebagai salah satu film horor lokal paling ambisius tahun ini. Kehadiran Putri Maya Rumanti sebagai Bintari semakin memperkaya narasi dan menunjukkan bahwa talenta dari Lampung mampu bersinar di industri film nasional.***












