SAMUDERA NEWS— Pewarta Foto Indonesia (PFI) menegaskan posisinya sebagai pelopor dan penjaga integritas jurnalistik visual di Tanah Air. Sejak berdiri pada 18 Desember 1998 di Jakarta, PFI terus menjadi benteng perlindungan bagi pewarta foto, termasuk di Lampung, menghadapi tantangan era digital dan dinamika pers yang semakin cepat.
Ketua PFI Lampung, Juniardi, menegaskan bahwa organisasi ini lahir dari kebutuhan mendesak melindungi pewarta foto. “Pewarta foto sering kali menjadi sasaran utama di lapangan, mulai dari kekerasan, intimidasi, hingga pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di mana karya mereka digunakan tanpa atribusi atau kompensasi,” ungkap Juniardi, Rabu (19/11/2025), menjelang persiapan Kongres PFI VIII 2025 di Jakarta.
PFI secara resmi menjadi konstituen Dewan Pers pada 2020 melalui SK Nomor 19/SK-DP/III/2020, menegaskan peran strategis organisasi ini dalam memastikan kebebasan pers di Indonesia tetap terjaga. Organisasi ini menekankan tiga pilar utama: advokasi dan perlindungan, peningkatan kompetensi anggota, serta apresiasi dan edukasi publik terhadap foto jurnalistik.
Dalam praktiknya, PFI aktif melindungi anggota dari ancaman dan kekerasan, serta memastikan standar profesionalisme melalui Uji Kompetensi Pewarta Foto bersertifikasi. Selain itu, organisasi ini rutin menyelenggarakan Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) setiap tahun, menjadi barometer kualitas foto jurnalistik nasional sekaligus edukasi visual bagi publik.
PFI Lampung juga menggelar berbagai workshop dan pelatihan fotografi, termasuk kolaborasi untuk sektor UMKM, mendukung keterampilan teknis dan etika peliputan. Secara aktif, PFI menyuarakan solidaritas dalam isu kebebasan pers dan kekerasan terhadap jurnalis, sekaligus mengambil peran dalam pemilihan anggota Dewan Pers, memastikan suara pewarta foto terdengar dalam kebijakan pers nasional.
Juniardi, yang sebelumnya pernah menjabat di berbagai posisi strategis di Lampung Post, PWI, dan Sinar Lampung, terpilih aklamasi sebagai Ketua PFI Lampung periode 2025–2028 menggantikan Ardiansyah Jambak. Pemilihan ini berlangsung melalui Musyawarah Daerah (Musda) dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PFI Lampung 2025 pada 2 November 2025, digelar secara hibrida dengan partisipasi anggota dari 13 kota via Zoom.
Sebagai ketua terpilih, Juniardi menegaskan tiga program kerja prioritas: penguatan kelembagaan, kaderisasi anggota, dan peningkatan kapasitas profesional. Ia mengajak seluruh awak PFI Lampung solid dalam mendorong standar etika dan kompetensi jurnalistik foto, sekaligus memperkuat posisi organisasi di tingkat nasional.
Diksi “pewarta foto” digunakan untuk membedakan anggota PFI dengan jurnalis foto atau fotografer profesional lainnya, menekankan karakteristik karya jurnalistik yang khas. PFI kini hadir di 21 provinsi di Indonesia, diakui negara melalui Dewan Pers dan Kemenkumham, menjadikannya salah satu konstituen penting dalam ekosistem pers nasional.
Sejarah terbaru PFI mencatat pencapaian monumental: salah satu anggotanya, Maha Eka Swasta, terpilih sebagai anggota Dewan Pers 2025–2028. Kongres PFI ke-VIII yang akan digelar pada 21-23 November 2025 di Jakarta menjadi momentum penting, di mana Ketua dan Sekretaris dari 21 PFI Kota akan merumuskan kebijakan organisasi tiga tahun ke depan sekaligus memilih Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal periode 2025–2028.
Dengan rekam jejak panjangnya, PFI terus menjadi garda terdepan dalam melindungi integritas jurnalisme visual, mendokumentasikan peristiwa penting, dan mendidik publik melalui kekuatan foto, memastikan suara visual tetap menjadi bagian penting dalam sejarah pers Indonesia.***












