• Redaksi
  • Tentang Kami
Wednesday, October 28, 2026
Samudera News
  • Login
  • Register
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS
No Result
View All Result
Samudera News
No Result
View All Result
  • ANIME
  • EKBIS
  • ENTERTAINTMENT
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
Home Berita

Kritik Sastra Marxis atas Puisi Muhammad Alfariezie: Potret Ironis Rakyat di Tengah Kapital dan Kekuasaan

MeldabyMelda
08/10/2025
in Berita
Kritik Sastra Marxis atas Puisi Muhammad Alfariezie: Potret Ironis Rakyat di Tengah Kapital dan Kekuasaan
ADVERTISEMENT

SAMUDERA NEWS– Puisi “Sembilan Miliar Kebodohan Kita” karya penyair Muhammad Alfariezie menjadi representasi tajam dari perlawanan terhadap realitas sosial yang timpang dan rusaknya moral birokrasi. Dalam puisi ini, Alfariezie memotret wajah kekuasaan yang korup, masyarakat yang apatis, serta ironi sistem pendidikan yang seharusnya mencerdaskan bangsa tetapi justru menjadi ladang eksploitasi.

Puisi ini dapat dibaca melalui pendekatan kritik sastra Marxis karena menyingkap pertentangan kelas antara kaum penguasa dan rakyat kecil. Penyair tidak sekadar menyoroti perilaku individual pejabat, tetapi juga menelanjangi struktur sosial-ekonomi yang memungkinkan ketimpangan dan korupsi terus hidup. Melalui diksi sederhana namun tajam, ia menunjukkan bagaimana rakyat justru menjadi korban sekaligus bagian dari sistem yang menindas diri mereka sendiri.

Berikut puisi karya Muhammad Alfariezie:

BeritaLainnya

Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi

Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan

Sembilan Miliar Kebodohan Kita

Skandal harus tersingkir!
Bukan iri tapi karena peduli
harga satu regulasi bikin
kita gigit jari

ADVERTISEMENT

Satu regulasi seharga tiga
mobil mewah bawaan kepala
sekolah! Bayangkan cuma
cuma bagi warga pra
sejahtera

Tapi kita bodoh lebih lagi malas
walau sebatas membayangkan

Kita justru senang susah payah
membopong-gelar karpet
merah untuk wali kota bikin
sekolah

Sekolah yang telah nyata
tidak peduli sembilan miliar

Bayangkan betapa kita
bodoh! Senang pula
membaca berita: “wali kota
bikin sekolah swasta untuk
keluarganya bahagia”

Bayangkan betapa kita
bodoh! 9 miliar sia-sia
ditambah dana hibah
untuk sekolah atas
namanya merogoh kas
negara

Bandar Lampung, 2025

Dalam pembacaan Marxis, puisi ini memperlihatkan tiga hal penting: eksploitasi struktural oleh penguasa, kesadaran palsu rakyat, dan kontradiksi antara nilai moral dan realitas ekonomi.

Pertama, eksploitasi struktural tampak jelas melalui simbol “harga satu regulasi”. Frasa ini menggambarkan bagaimana kebijakan publik telah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Hukum dan aturan, yang seharusnya menjamin keadilan sosial, malah menjadi alat akumulasi kapital bagi elit berkuasa. Di sinilah kekuasaan dan modal berpadu, melahirkan bentuk kapitalisme birokratis yang menindas rakyat secara sistemik.

Kedua, penyair menyoroti “kesadaran palsu” yang menjangkiti masyarakat. Diksi “kita bodoh lebih lagi malas” dan “senang susah payah membopong-gelar karpet merah” mengandung kritik mendalam terhadap rakyat yang memilih tunduk dan bersorak atas penindasan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana ideologi dominan menanamkan rasa puas semu, membuat rakyat tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan. Dalam istilah Marx, inilah bentuk nyata dari alienasi sosial: rakyat kehilangan kesadaran akan posisi dan kekuatannya sendiri.

Ketiga, puisi ini mengungkap kontradiksi moral yang begitu kuat. Ketika wali kota digambarkan membangun sekolah swasta “untuk keluarganya bahagia,” penyair menyoroti betapa pendidikan—yang seharusnya menjadi jalan pembebasan—telah tereduksi menjadi simbol status dan alat politik. Nilai keadilan dan kepedulian publik terkubur di bawah kepentingan pribadi. Dana publik yang mencapai sembilan miliar rupiah menjadi metafora dari kejahatan moral dan ekonomi yang ditoleransi oleh sistem.

Lebih jauh, gaya bahasa Alfariezie yang sarkastik memperkuat pesan politis puisi ini. Repetisi frasa “bayangkan betapa kita bodoh” bukan sekadar ejekan, melainkan panggilan untuk membangkitkan kesadaran kelas. Ia mengajak rakyat untuk berhenti menjadi penonton, berhenti menjadi bagian dari sistem penindasan, dan mulai mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari setiap kebijakan dan proyek yang mengatasnamakan kesejahteraan.

Dalam konteks masyarakat Lampung, puisi ini memiliki relevansi yang kuat. Ia merefleksikan dinamika sosial yang sering kali terselubung di balik retorika pembangunan. Ketika proyek-proyek pemerintah dijalankan tanpa transparansi, sementara masyarakat masih bergelut dengan kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan, maka puisi semacam ini hadir sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap dominasi elit dan birokrasi korup.

Karya ini bukan hanya kritik sastra, tetapi juga manifesto moral dan politik. Ia menegaskan bahwa sastra memiliki peran untuk menyuarakan kebenaran yang dibungkam oleh kekuasaan. Dalam semangat Marxis, puisi Alfariezie menunjukkan bahwa seni bukanlah ruang netral, melainkan medan perjuangan ideologi.

Puisi “Sembilan Miliar Kebodohan Kita” mengajak pembacanya untuk menatap cermin dan bertanya: sampai kapan rakyat akan menjadi bagian dari kebodohan yang mereka kecam sendiri? Dengan kekuatan kata dan kesadaran sosial yang tajam, Muhammad Alfariezie berhasil mengubah puisi menjadi alat pembongkaran sistem yang timpang, sekaligus seruan untuk bangkit dari keterlenaan kolektif.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: analisis sastraketimpangan sosialkorupsi birokrasikritik marxisliteratur IndonesiaMuhammad Alfarieziependidikan dan kekuasaanpuisi kritisrakyat kecilsastra sosial politik
ShareSendShareTweetShare
Previous Post

Ketua DPD PA GMNI Lampung Dorong Sahabat Marinda 54 Terus Bergerak untuk Kepentingan Rakyat

Next Post

Malam Mencekam di Pasar Dekon Kotabumi: Bongkar Ex. Cinema Berujung Petaka, Belasan Lapak Hancur Diterjang Puing

Related Posts

Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi
Berita

Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi

28/10/2026
Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan
Berita

Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan

28/10/2026
Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter
Berita

Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter

27/10/2026
59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif
Berita

59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif

27/10/2026
Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi
Berita

Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi

27/10/2026
Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Raih Medali Emas
Berita

Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Raih Medali Emas

27/10/2026
Next Post
Malam Mencekam di Pasar Dekon Kotabumi: Bongkar Ex. Cinema Berujung Petaka, Belasan Lapak Hancur Diterjang Puing

Malam Mencekam di Pasar Dekon Kotabumi: Bongkar Ex. Cinema Berujung Petaka, Belasan Lapak Hancur Diterjang Puing

Nama Baik Dicemarkan, Ferry Ardiansyah Laporkan 5 Akun TikTok ke Polisi: “Kebebasan Berekspresi Bukan Berarti Bebas Melanggar Hukum”

Nama Baik Dicemarkan, Ferry Ardiansyah Laporkan 5 Akun TikTok ke Polisi: “Kebebasan Berekspresi Bukan Berarti Bebas Melanggar Hukum”

Pohon Raksasa Tumbang Lumpuhkan Jalan Menuju Wisata Pesawaran, Warga Panik dan Lalu Lintas Macet Total

Pohon Raksasa Tumbang Lumpuhkan Jalan Menuju Wisata Pesawaran, Warga Panik dan Lalu Lintas Macet Total

Tes TBC Negatif, Polisi dan Tenaga Medis Pastikan Penjamah Pangan di Rawa Selapan Aman dari Penyakit Menular

Tes TBC Negatif, Polisi dan Tenaga Medis Pastikan Penjamah Pangan di Rawa Selapan Aman dari Penyakit Menular

Polda Lampung Selangkah Lagi Tetapkan Tersangka Kasus Diksar Mahepel Unila, Fakta Mengejutkan Terungkap di Balik Tragedi Pratama

Polda Lampung Selangkah Lagi Tetapkan Tersangka Kasus Diksar Mahepel Unila, Fakta Mengejutkan Terungkap di Balik Tragedi Pratama

Berita Terkini

  • Bukan Sekadar Pembinaan, Bapas Kotabumi Bekali Klien Keahlian Meracik Kopi
  • Cara Mengurangi Kecemasan Berlebihan
  • Geger di Katibung! Polisi Temukan Tanaman Diduga Ganja Setinggi Satu Meter
  • 59 Pekon Gelar Pilkakon Serentak, Bupati Pringsewu Pastikan Pemungutan Suara Kondusif
  • Dana Pembangunan Masjid MTsN 1 Kalianda Jadi Sorotan, Satgas Saber Pungli Diminta Mengawasi

Berita Populer

  • TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    TERUNGKAP! Inilah Pemilik Sertifikat HGB Seluas 656 Hektare di Perairan Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mindful Consumption: Bagaimana Kebiasaan Membeli yang Sadar Membentuk Gaya Hidup Anda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi antara dua raksasa industri hiburan, HYBE dan ADOR, terus mengemuka dengan adanya rilis mengejutkan dari Dispatch yang mengguncang opini publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Daftar Sekolah Kedinasan Terbaru 2024

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infrastruktur Jalan Lampung Memerlukan Pemimpin yang Tindak Tegas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Samudera News

Sebagai portal berita yang berfokus pada keberagaman dan kualitas, kami berkomitmen untuk menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan berimbang kepada pembaca kami.

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • EKONOMI & BISNIS
  • ENTERTAINTMENT
    • ANIME
    • LIFE STYLE
  • NEWS
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • TEKNO OTO
  • NETWORK
  • INDEKS

© 2024 Samudrannews.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In