SAMUDERA – Dunia sastra Lampung kembali bergetar setelah penyair muda berbakat, Muhammad Alfariezie, merilis karya puisinya yang berjudul “Sekolah di Istana Para Dewi”. Karya ini menjadi perbincangan publik karena keberaniannya menyoroti misteri lembaga pendidikan yang disebut-sebut menerima anggaran negara, namun tak jelas keberadaan fisik maupun transparansi pengelolaannya.
Muhammad Alfariezie, yang sebelumnya dikenal lewat novel debutnya berjudul Rumah Darah, kini tampil sebagai sosok penyair muda yang menggunakan puisi sebagai senjata moral. Melalui gaya satire yang tajam, ia menggabungkan kritik sosial, simbolisme, dan humor gelap untuk mengungkap sisi buram pendidikan di negeri yang konon berkomitmen mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam wawasan puitiknya, Alfa menggunakan formula unik yang mencerminkan logika sosial yang terdistorsi:
Institusi Pendidikan + Kekuasaan + Misteri + Ironi Sosial = Kritik atas Korupsi Moral dan Sistemik.
Formula itu ia sederhanakan kembali dalam bentuk simbolik yang lebih menggigit:
(Yayasan + Anggaran Negara) – (Transparansi + Kejujuran) = Ketimpangan + Satire Sosial.
Puisi “Sekolah di Istana Para Dewi” pun lahir dari perumusan ini, menjadi bentuk kemarahan yang elegan, kritik yang tersusun dalam keindahan bahasa, dan gugatan yang dibalut ironi.
Berikut isi puisi lengkap karya Alfariezie:
Sekolah di Istana Para Dewi
Yayasa Prakarsa Bunda
entah di mana kantornya
tapi menerima anggaran
bangun sekolah dari
pemerintah meski belum
tentu muridnya resmi
berijazah
Mungkin kantornya di
Kontrakan wali kota
sebab bisa jadi dia
yang punya
Barangkali sekretariatnya
di istana para dewi sebab
yayasan ini sungguh
bermisteri
Kami bertanya ke para guru
namun mereka enggak ada
yang tahu
Kami bertanya kepada murid
tapi perasaan seperti tergigit
Sekolah penerima APBD
yang katanya semua gratis
ternyata jual beli buku: sadis!
Yayasan Prakarsa Bunda
siapa yang punya?
2025
Puisi ini tidak hanya sekadar permainan kata. Ia adalah refleksi sosial, sebuah alarm moral yang menyorot kebobrokan sistem yang mengatasnamakan pendidikan. Melalui diksi sederhana namun tajam, penyair menyentuh persoalan klasik: korupsi, transparansi, dan ketimpangan sosial yang disamarkan lewat retorika kebaikan publik.
Sejak bait pertama, pembaca langsung diajak menelusuri absurditas realitas: lembaga yang menerima dana besar dari pemerintah, tetapi tak jelas di mana kantornya berada. Kalimat “entah di mana kantornya tapi menerima anggaran” menjadi sindiran keras terhadap praktik birokrasi gelap di balik nama-nama yayasan yang seolah suci namun sarat kepentingan politik.
Baris “mungkin kantornya di kontrakan wali kota” memperkuat dugaan bahwa institusi pendidikan dalam puisi ini hanyalah simbol dari kekuasaan yang berkelindan dengan kepentingan pribadi. Penyair membangun alegori kekuasaan yang feminin melalui istilah “istana para dewi”, menciptakan kesan lembut namun menyimpan ironi pahit: kekuasaan yang manis di luar, tetapi menekan di dalam.
Di bagian tengah puisi, suasana berubah menjadi lebih surealis dan absurd. Guru dan murid, dua elemen kunci dunia pendidikan, justru digambarkan kehilangan arah dan makna. “Kami bertanya ke para guru namun mereka enggak ada yang tahu / Kami bertanya kepada murid tapi perasaan seperti tergigit.” Dua baris ini menggambarkan kekacauan sistem yang membuat para pelaku pendidikan kehilangan pijakan dan identitasnya.
Bait berikutnya menampilkan ledakan emosi penyair dengan ironi tajam: “Sekolah penerima APBD yang katanya semua gratis ternyata jual beli buku: sadis!” Di sinilah kritik sosial mencapai puncaknya. Kata “sadis” menjadi simbol kejengkelan terhadap paradoks yang sering terjadi: kebijakan pendidikan gratis di atas kertas, tapi praktik di lapangan tetap berorientasi pada keuntungan.
Bagian akhir puisi, dengan kalimat “Yayasan Prakarsa Bunda, siapa yang punya?”, menjadi pukulan telak terhadap moral publik. Pertanyaan sederhana ini menggema seperti seruan keadilan, bukan hanya menyoal kepemilikan lembaga, tetapi juga kepemilikan makna. Siapa yang sebenarnya memiliki pendidikan? Apakah rakyat, atau mereka yang bersembunyi di balik kekuasaan dan nama-nama besar?
Melalui karyanya, Alfariezie tidak hanya menulis puisi, tetapi membangun cermin sosial. Ia mengingatkan bahwa pendidikan hari ini telah kehilangan peta moralnya, bergeser dari ruang pembelajaran menuju ruang transaksi. Kritiknya menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi sarana pembebasan, bukan komoditas birokratis.
Sekolah di Istana Para Dewi menjadi bukti bahwa puisi masih bisa menjadi senjata sosial. Dalam bait-baitnya yang padat dan menyengat, ia menantang publik untuk tidak lagi diam terhadap penyimpangan yang dilakukan atas nama pendidikan.***












