SAMUDERA NEWS– Sepak bola Italia bukan hanya tentang formasi atau transisi menyerang. Ia adalah panggung drama, sejarah, dan kebanggaan nasional. Dan dalam dunia sepak bola yang kini lapar akan cerita—Jose Mourinho adalah jawabannya.
Serie A pernah menjadi surga bagi pemain legendaris: Del Piero, Maldini, Totti, hingga Pirlo. Namun kejayaan itu meredup saat La Liga menggelar Galácticos dan Liga Inggris membuka keran investasi asing. Sementara itu, Italia tertidur panjang dalam bayang-bayang masa lalu.
Hingga datang Mourinho, menerima panggilan hasrat Massimo Moratti. Ia mengubah Giuseppe Meazza menjadi panggung dunia, menghentikan dominasi Barcelona dan menyabet Treble Winner—satu-satunya dalam sejarah Serie A. Dunia kembali menoleh ke Italia, bukan karena kontroversi, tapi karena kemenangan.
Mourinho kemudian menjelajah: Madrid, Chelsea, Manchester United, Spurs. Namun akhirnya, panggilan Italia membawanya kembali—kali ini ke Roma.
Tak perlu waktu lama, kota abadi itu kembali bergemuruh. Stadion penuh, wawancara Mourinho viral, setiap gestur dan pernyataannya jadi tajuk utama. Tapi yang lebih penting, ia mempersembahkan trofi Eropa pertama Roma sejak 1961, dan membawa mereka ke final Liga Europa 2023.
Dia bukan sekadar pelatih. Mourinho adalah magnet.
Di tangannya, nama-nama seperti Tammy Abraham dan Zalewski bersinar. Karakter keras khas Italia kembali muncul, tidak hanya di Roma, tapi merembet ke klub lain. Inter Milan ke final Liga Champions, Napoli juara Serie A dengan gaya modern, Fiorentina dua kali tampil di final Eropa.
Serie A kembali diperbincangkan. Penonton luar negeri tumbuh. Media sosial klub Italia aktif kembali. Anak-anak muda mulai menyebut nama-nama dari Serie A di kanal YouTube sepak bola. Italia kembali relevan.
Mourinho hari ini mungkin bukan jenius taktik seperti dulu. Tapi dia adalah simbol. Simbol kebangkitan, cerita, dan sensasi yang Serie A butuhkan.
Lalu, jika Italia kembali memanggilnya… ke mana langkah Mourinho selanjutnya?
AC Milan yang rindu kejayaan Eropa? Atau Nyonya Tua yang ingin kembali berkuasa di Liga Champions?
Apapun jawabannya, satu hal pasti:
Selama dunia butuh cerita, Italia butuh Mourinho.***











