SAMUDERA NEWS- Pemerintahan Prabowo-Gibran kini tengah memasuki masa awal yang krusial. Seperti masa-masa menjelang kelahiran, kondisi ini penuh harap namun juga menimbulkan rasa cemas bagi para pembantunya—para menteri—yang harus menunjukkan kinerja dan loyalitas penuh terhadap visi Presiden dan Wakil Presiden.
Berbagai program strategis tengah digencarkan oleh pemerintahan ini, mulai dari menjaga stabilitas harga hingga meningkatkan daya beli masyarakat. Namun, keberhasilan program-program tersebut sangat ditentukan oleh kesiapan dan kapabilitas menteri-menterinya. Sayangnya, tak semua menteri menunjukkan performa yang sejalan dengan harapan publik dan arah kebijakan Presiden.
Salah satu yang menjadi sorotan tajam adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Beberapa kebijakan yang dikeluarkannya justru dinilai bertolak belakang dengan semangat pro-rakyat yang diusung Prabowo-Gibran.
Rekam Blunder Kebijakan
Pertama, terkait kebijakan distribusi gas elpiji 3kg yang justru dinilai menyulitkan masyarakat kecil dan pengusaha mikro. Program ini dinilai menciptakan ketidakpastian serta mengabaikan kebutuhan masyarakat akar rumput.
Kedua, proyek hilirisasi Dimenthyl Ether (DME) berbasis batubara yang dibiayai oleh Danantara juga menuai kontroversi. Selain membebani keuangan negara, proyek ini dianggap bertentangan dengan UU Minerba.
Ketiga, pernyataan kontroversial terkait pengemudi ojek online (ojol) yang tak masuk daftar penerima subsidi BBM sempat memicu gejolak sosial dan mencoreng komitmen pemerintah yang seharusnya berpihak pada sektor informal.
Kontroversi Personal
Tak hanya blunder kebijakan, Bahlil juga dikelilingi sejumlah kontroversi personal yang kian memperburuk citra kementerian ESDM. Di antaranya:
- Pidato politik yang menyebut “Raja Jawa” saat menjadi Ketua Umum Partai Golkar.
- Beredarnya foto dirinya duduk bersama minuman keras bermerek.
- Dugaan keterlibatan dalam pembubaran paksa Diskusi Kebangsaan di Jakarta.
- Dugaan plagiarisme dalam disertasi doktoral dengan similarity index mencapai 95 persen terhadap karya mahasiswa UIN Jakarta.
Desakan Reshuffle Menguat
Melihat rangkaian kejadian tersebut, tidak berlebihan bila publik kini mendesak Presiden Prabowo untuk segera melakukan reshuffle kabinet. Menteri-menteri yang tidak sejalan atau bahkan merugikan citra pemerintahan harus dievaluasi secara objektif dan tegas.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, adalah salah satu yang layak dievaluasi secara menyeluruh. Bukan semata soal kinerja, tetapi juga tentang menjaga integritas dan kepercayaan publik terhadap pemerintahan yang tengah membangun dari awal.***












