SAMUDERA NEWS- Kreativitas luar biasa kembali lahir dari balik jeruji besi. Di Lapas Kelas III Dharmasraya, Sumatera Barat, para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sukses mengubah limbah batok kelapa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang siap bersaing di pasar UMKM. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang dicanangkan oleh Kementerian Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Dengan bimbingan langsung dari petugas pembinaan dan pelatihan, para WBP dilatih mengolah batok kelapa menjadi berbagai produk kreatif seperti gantungan kunci, asbak, celengan, hiasan meja, hingga miniatur dekoratif yang menarik. Proses pembuatannya dilakukan secara manual dengan ketelitian tinggi, mulai dari pemilihan batok terbaik, pemotongan, penghalusan, hingga tahap pewarnaan dan finishing untuk menghasilkan tampilan yang estetik.
Salah satu WBP yang aktif dalam program ini, Gulo, mengaku sangat bangga bisa ikut berkontribusi. “Awalnya saya kira batok kelapa cuma jadi sampah, tapi ternyata bisa diolah jadi barang yang punya nilai jual tinggi. Sekarang saya jadi punya keterampilan baru, dan kalau nanti bebas, saya ingin buka usaha dari hasil pelatihan ini,” ungkapnya penuh semangat.
Program ini tak hanya bertujuan untuk memberikan keterampilan tangan, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan bagi para WBP. Kepala Lapas Kelas III Dharmasraya, Ferdika Canra, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata pembinaan yang berorientasi pada kemandirian ekonomi dan pemulihan sosial bagi warga binaan.
“Kami ingin para warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga mendapatkan bekal keterampilan yang bermanfaat bagi masa depan mereka. Produk kerajinan dari batok kelapa ini akan kami bantu promosikan sebagai produk UMKM binaan Lapas Dharmasraya,” ujar Ferdika.
Ferdika menambahkan, hasil karya para WBP ini akan dipamerkan dalam berbagai event pameran, bazar, hingga kegiatan kolaboratif bersama pemerintah daerah dan pelaku UMKM setempat. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Lapas Dharmasraya dalam mendukung visi pemerintah untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis kerajinan lokal.
Selain memberikan nilai tambah ekonomi, kegiatan ini juga berdampak positif terhadap mental dan moral warga binaan. Banyak dari mereka yang merasa lebih percaya diri, termotivasi, dan memiliki tujuan hidup baru setelah mempelajari keterampilan tersebut.
“Di dalam sini, kami belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tetap produktif. Kami berharap hasil karya kami bisa diterima masyarakat dan menjadi simbol perubahan yang baik,” kata salah satu WBP lainnya yang turut serta dalam pelatihan.
Dengan semangat kolaborasi antara petugas dan warga binaan, Lapas Dharmasraya menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat pembinaan, tetapi juga ruang kreatif yang mampu melahirkan inovasi. Batok kelapa yang dulunya dianggap limbah kini menjelma menjadi simbol harapan baru — karya yang lahir dari ketekunan dan niat untuk memperbaiki diri.***












